Indonesia kembali merajut identitasnya melalui kekayaan kuliner. Inisiatif budaya Indonesia Kaya meluncurkan musim terbaru webseries ‘Kuliner Indonesia Kaya 2026’, sebuah dokumentasi audio visual yang mendalam. Program ini mengeksplorasi sejarah di balik sajian khas Ternate, Palembang, dan Banten, membawa penonton melintasi jalur perdagangan dan titik-titik akulturasi yang membentuk identitas lokal di tiga kota bersejarah tersebut.
Sejak pertama kali bergulir pada tahun 2017, program ini secara konsisten menempatkan makanan bukan sekadar pengganjal perut. Lebih dari itu, kuliner dianggap sebagai arsip hidup perjalanan budaya bangsa. Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya, menegaskan pentingnya program ini.
“Kami menggali cerita yang tertanam dalam setiap suapan. Kekuatan kuliner Nusantara ada pada nilai sejarah dan filosofi hidup masyarakatnya,” kata Renitasari Adrian, seperti dilansir dari siaran pers yang diterima jatimnow.com pada Kamis (05/3/2026). Ia berharap generasi muda mampu melihat hidangan tradisional sebagai warisan yang harus terus diapresiasi.
Perjalanan dimulai di Ternate, yang dikenal sebagai titik utama Jalur Rempah. Di sini, tradisi Rimo-rimo menjadi sorotan utama. Rimo-rimo adalah teknik memasak menggunakan bambu, sebuah pengetahuan warisan leluhur untuk bertahan hidup di hutan tanpa peralatan dapur modern. Kris Syamsudin, pendiri Cengkeh Afo dan Gamalama Spices, menjelaskan makna di balik tradisi ini.
“Rimo-rimo merupakan manifestasi hubungan harmonis manusia dengan alam,” ujar Kris Syamsudin. Selain itu, Ternate juga memperkenalkan Gohu Ikan, sashimi ala Maluku Utara yang menyajikan tuna atau cakalang mentah dengan siraman lemon cui dan kemangi, tanpa melalui proses api.
Bergeser ke Palembang, narasi kuliner mengalir bersama Sungai Musi. Episode ini membedah Pindang Ikan yang kaya rempah serta dua kudapan legendaris: Kue Delapan Jam dan Kue Maksuba. Kue Delapan Jam menjadi simbol kesabaran karena proses pengukusannya yang memakan waktu sepertiga hari. Sementara itu, Kue Maksuba yang berlapis-lapis sering menjadi hantaran bakti pengantin baru kepada orang tua, sebuah simbol kecermatan dan kematangan karakter perempuan Palembang.
Petualangan rasa berakhir di Banten, menyisir jejak Kesultanan melalui Sate Bandeng dan Rabeg. Sate Bandeng lahir dari kreativitas juru masak keraton yang mencabut duri ikan demi memudahkan Sultan Maulana Hasanuddin menjamu tamu. Sedangkan Rabeg, olahan daging kambing beraroma Timur Tengah, diyakini sebagai hasil adaptasi sang Sultan setelah terkesan dengan kuliner di Kota Rabig, tepi Laut Merah, saat menunaikan ibadah haji.
Melalui kemasan visual yang padat dan modern di kanal YouTube IndonesiaKaya, dokumentasi ini menjadi jembatan bagi masyarakat urban untuk kembali mengenali akar budayanya sendiri. Bagi Indonesia Kaya, di balik setiap resep, selalu ada sejarah panjang yang membentuk karakter sebuah bangsa.
sumber gambar: jatimnow.com 