Sebanyak 1.383 ekor sapi perah unggulan asal Australia telah tiba di Pelabuhan Hewan Tanjung Intan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Minggu (1/2). Kedatangan ribuan sapi ini menjadi bagian dari program nasional untuk memperkuat pasokan protein hewani dan meningkatkan kapasitas produksi susu domestik.
Sapi-sapi tersebut terdiri dari dua jenis utama, yakni Friesian Holstein (FH) sebanyak 1.094 ekor yang diimpor oleh Lunar, dan Jersey sebanyak 289 ekor yang dibawa oleh Mazarat. Kedua jenis sapi ini dikenal memiliki kualitas dan produktivitas susu yang tinggi. Seluruh sapi dilaporkan dalam kondisi sehat setelah melalui proses seleksi ketat sejak sebelum keberangkatan hingga perjalanan laut.
Pengawasan Ketat Kesehatan Hewan
Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Hendra Wibawa, menekankan pentingnya menjaga kesehatan hewan. Setiap sapi yang tiba wajib menjalani masa observasi di Instalasi Karantina Hewan (IKH) guna memastikan tidak ada penyakit menular yang masuk ke Indonesia.
“Pengawasan ketat selama pengiriman dan karantina bertujuan agar hanya sapi-sapi dengan kondisi kesehatan terbaik yang diperbolehkan masuk,” jelas Hendra Wibawa.
Kedatangan sapi impor ini juga disambut positif oleh Kepala Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) Baturraden, Dani Kusworo. Ia menilai sapi-sapi ini akan memberikan kontribusi signifikan bagi peternakan nasional.
“Sapi-sapi ini akan menjadi aset penting dalam meningkatkan kualitas genetika sapi perah lokal dan berpotensi memberikan dampak positif jangka panjang bagi peternak Indonesia,” kata Dani Kusworo.
Distribusi dan Harapan Peningkatan Produksi
Setelah menjalani masa karantina dan adaptasi iklim, sapi-sapi ini akan didistribusikan ke berbagai pusat peternakan. Sebanyak 250 ekor di antaranya akan ditempatkan di BBPTU-HPT Baturraden melalui kerja sama investasi antara PT Suri Nusantara Jaya dan PT Estika.
Kementerian Pertanian berharap, kedatangan ribuan sapi perah ini mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor susu. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produksi susu segar dalam negeri sekaligus mendukung pemenuhan gizi masyarakat secara berkelanjutan.
