Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tengah mematangkan riset pengembangan varietas padi salin, sebuah inovasi yang memungkinkan padi tumbuh subur di lahan berkadar garam tinggi. Terobosan ini diharapkan menjadi solusi atas ancaman krisis pangan di wilayah pesisir akibat intrusi air laut, mengubah lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi sawah produktif di Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya.
Proyek ini merupakan bagian dari program Equity World Class University (WCU) ITS, yang melibatkan kolaborasi internasional. Pakar biologi ITS, Mukhammad Muryono PhD, menggandeng Tran Thi Huong Sen PhD dari University of Agriculture and Forestry, Hue University Vietnam. Vietnam dipilih sebagai mitra karena keberhasilannya dalam mengelola lahan kritis di wilayah Delta Mekong. Kini, adaptasi teknologi serupa dibawa ke Surabaya untuk memastikan masyarakat pesisir bisa berdaulat secara pangan di tengah perubahan iklim yang kian ekstrem.
“Kami fokus mengembangkan varietas padi yang punya toleransi tinggi terhadap garam. Tujuannya jelas, meningkatkan produktivitas lahan yang selama ini terbengkalai akibat intrusi air laut,” ujar Muryono pada Selasa (14/4/2026).
Bukan sekadar menanam padi, tim peneliti turut menyematkan teknologi hijau bernama Water Level Sensor (WALsens). Perangkat bertenaga surya ini memantau ketinggian air secara akurat dan seketika (real-time). Untuk memperbaiki kualitas tanah, mereka menggunakan Biochar sebagai pembenah tanah. Langkah tersebut diklaim mampu menyerap karbon lebih banyak sekaligus menekan emisi gas metana di area persawahan.
Kolaborasi ini juga melibatkan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya sebagai jembatan agar inovasi laboratorium tidak mandek di atas kertas, namun benar-benar mendarat di tangan petani. BRIDA menyediakan lahan di KRM Surabaya sebagai etalase sekaligus laboratorium alam.
“Sinergi ini merupakan wujud nyata riset yang berdampak langsung. Dengan dukungan pakar internasional dan ekosistem unik di KRM Surabaya, kami optimistis lahir varietas padi masa depan yang menjamin perut masyarakat pesisir tetap kenyang,” tegas Muryono.
Proyek ambisius tersebut diharapkan tidak hanya melahirkan publikasi ilmiah di jurnal internasional, tetapi menjadi jawaban konkret atas poin-poin tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama dalam menghapus kelaparan dan mendorong inovasi infrastruktur di daerah marginal.
