PT Bimasakti Multi Sinergi, perusahaan teknologi finansial (fintech) yang berawal dari Sidoarjo, Jawa Timur, kini telah tumbuh menjadi pemain nasional. Ekspansi ini memperluas jangkauan layanan pembayaran digital, membuka akses keuangan lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha di berbagai daerah di Indonesia.

Perjalanan Bimasakti dimulai dari kebutuhan transaksi di daerah, mendorong pengembangan solusi pembayaran digital yang kini membentuk ekosistem layanan komprehensif. Perusahaan ini mengelola sejumlah platform utama, termasuk Winpay sebagai payment gateway, SpeedCash untuk dompet digital, dan Rajabiller yang menyediakan sistem H2H multi-biller.

Ekspansi layanan ini secara langsung berdampak positif pada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Kemudahan akses pembayaran membantu transaksi berjalan lebih efisien, sekaligus mempercepat adopsi ekonomi digital di wilayah yang sebelumnya mungkin belum terlayani secara optimal.

VP Regulator and State Authority Bimasakti, Novandy Bambang Pramana, menegaskan bahwa perusahaan sejak awal telah melihat kebutuhan layanan digital yang tersebar di berbagai daerah, tidak hanya terpusat di kota-kota besar.

“Perjalanan dari Sidoarjo hingga berkembang secara nasional merupakan komitmen kami menghadirkan solusi pembayaran yang inklusif. Kebutuhan layanan digital tidak hanya berada di kota besar, sehingga kami membangun sistem yang dapat menjangkau mitra dan pengguna lebih luas, dengan tetap menjaga keamanan dan keandalan layanan,” ujar Novandy pada Selasa (31/3/2026).

Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menyambut baik tren pertumbuhan pemain fintech dari daerah, menilai hal ini memperkuat pemerataan inovasi dan membuka peluang yang lebih setara bagi masyarakat dalam mengakses layanan keuangan digital.

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menyebut perkembangan ini sebagai sinyal positif bagi industri. “Pertumbuhan fintech dari daerah membuka akses layanan keuangan yang lebih merata. Kondisi ini penting untuk memberi kesempatan yang setara bagi masyarakat dan pelaku usaha, sekaligus memperkuat ekosistem fintech nasional,” kata Firlie.

Perkuat Keamanan Data dengan Sertifikasi Global

Di tengah pesatnya ekspansi bisnis dan peningkatan volume transaksi digital, isu keamanan menjadi perhatian utama Bimasakti. Untuk menjawab tantangan ini, perusahaan memperkuat tata kelola sistemnya dengan meraih sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 dari lembaga global TUV Rheinland.

Standar internasional tersebut mengatur sistem manajemen keamanan informasi (SMKI) yang diakui secara global, menunjukkan komitmen Bimasakti terhadap perlindungan data dan informasi penggunanya.

Novandy menjelaskan bahwa penerapan standar keamanan ini telah berjalan sejak tahun 2015 dan kini diperluas ke area strategis, mulai dari pengembangan sistem hingga operasional teknologi informasi.

“Ruang lingkup sertifikasi mencakup layanan utama seperti pengelolaan sumber dana, QRIS, payment initiation, acquiring, hingga remitansi. Dengan cakupan tersebut, pengamanan data dapat diterapkan secara menyeluruh di seluruh ekosistem layanan,” jelasnya.

AFTECH memandang langkah Bimasakti dalam meraih sertifikasi keamanan global ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik di tengah pertumbuhan transaksi digital yang kian masif.

“Penerapan standar keamanan global menunjukkan komitmen industri dalam meningkatkan perlindungan data. Upaya tersebut mendukung ekosistem fintech yang aman dan berkelanjutan,” tambah Firlie.

Beroperasi selama lebih dari dua dekade, Bimasakti kini telah mengantongi lisensi sebagai Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) dari Bank Indonesia, termasuk untuk pengelolaan transaksi QRIS. Dengan jaringan mitra yang terus berkembang, perusahaan terus berupaya memperluas akses layanan keuangan sekaligus mempercepat inklusi digital di berbagai daerah di Indonesia.