Ancaman gagal panen dan penurunan kualitas gabah akibat cuaca tak menentu kini menemukan titik terang. Seorang mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya berhasil menciptakan inovasi teknologi yang diharapkan mampu menjadi solusi bagi para petani.

Nur Ahmad Justine Ivana, calon wisudawan Teknik Elektro Untag Surabaya, merancang sebuah alat pemisah dan pemanas padi otomatis. Perangkat ini bekerja berdasarkan sensor suhu dan kelembapan, menawarkan harapan baru bagi sektor pertanian di Indonesia.

Inovasi ini lahir dari keprihatinan Justin terhadap ketergantungan petani pada kondisi cuaca. Selama ini, proses pengeringan padi secara tradisional sangat rentan terganggu oleh mendung atau hujan, yang seringkali menyebabkan tingginya kadar air pada gabah dan berujung pada penurunan harga jual.

Melalui karya skripsinya yang berjudul “Rancang Bangun Alat Pemisah dan Pemanas Padi Berbasis Suhu dan Kelembapan,” Justin menawarkan mekanisme pascapanen yang lebih mandiri dan efisien. Alat ini dilengkapi mikrokontroler sebagai otak utama, serta sensor suhu dan kelembapan yang memantau kondisi gabah secara real-time.

Apabila tingkat kelembapan gabah masih tinggi, elemen pemanas (heater) akan aktif untuk menjaga suhu stabil. Proses ini memastikan gabah mencapai tingkat kekeringan yang diinginkan secara merata, tanpa perlu bergantung pada sinar matahari.

Tidak hanya mengeringkan, perangkat canggih ini juga memiliki kemampuan memilah bulir padi. Dengan memanfaatkan perbedaan massa jenis dan dorongan angin dari blower, gabah berisi akan secara otomatis terpisah dari ampas atau gabah kosong. Gabungan dua fungsi ini secara signifikan meningkatkan efisiensi kerja petani dibandingkan metode jemur konvensional.

Justin menjelaskan tujuan inovasinya saat ditemui menjelang prosesi wisuda di Untag Surabaya, Senin (09/2/2026). Ia mengatakan, “Tujuannya agar petani tidak lagi merugi saat cuaca buruk. Gabah bisa langsung masuk ke sistem pengering setelah panen, sehingga kualitas beras tetap premium.”

Perjuangan Mahasiswa Kelas Malam

Keberhasilan Justin dalam menyelesaikan riset ini patut diacungi jempol. Pria lulusan SMK Negeri 1 Driyorejo ini menempuh studi di kelas malam, sembari bekerja di bagian Building Management Trans Property. Meski memiliki jadwal padat, ia mampu menyelesaikan masa kuliah hanya dalam 3,5 tahun dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,5 yang membanggakan.

Ketertarikannya pada dunia kelistrikan telah mendarah daging sejak duduk di bangku SMK. Baginya, teknologi elektro bukan sekadar teori di kelas, melainkan sebuah alat untuk memecahkan masalah nyata di tengah masyarakat.

Mahasiswa yang juga aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka ini menambahkan, “Saya ingin skripsi ini bukan hanya tumpukan kertas, tapi benar-benar bisa diaplikasikan di lapangan, terutama untuk mendukung ketahanan pangan kita.”

Karya Justin menjadi bukti bahwa batasan waktu bagi mahasiswa pekerja bukanlah penghalang untuk melahirkan inovasi. Alat pemanas padi ini diharapkan dapat segera masuk ke tahap pengembangan lebih lanjut, agar bisa diproduksi secara massal dan memberikan manfaat nyata bagi komunitas petani, khususnya di Jawa Timur.