JAKARTA – Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap modus penipuan daring, khususnya phishing, yang kini semakin canggih dengan memanfaatkan konten viral di media sosial. Salah satu skema terbaru yang menjadi sorotan adalah penggunaan video viral bertema konflik ibu tiri dan anak tiri sebagai umpan untuk mencuri data pribadi pengguna.
Modus operandi ini tergolong licik karena mengeksploitasi rasa penasaran dan emosi publik terhadap konten yang sedang ramai dibicarakan. Penipu menyebarkan tautan berbahaya yang dikemas seolah-olah merupakan akses ke video lengkap atau informasi eksklusif terkait insiden viral tersebut. Namun, alih-alih menampilkan video yang dijanjikan, tautan tersebut justru mengarahkan korban ke situs web palsu yang dirancang untuk menjebak.
Ancaman di Balik Tautan Palsu
Ketika pengguna mengklik tautan phishing ini, mereka akan dibawa ke halaman yang menyerupai situs perbankan, platform media sosial, atau layanan e-commerce populer. Di halaman palsu ini, korban diminta untuk memasukkan informasi sensitif seperti nama pengguna, kata sandi, nomor kartu kredit, atau bahkan kode OTP (One-Time Password). Data-data inilah yang kemudian akan disalahgunakan oleh pelaku untuk melakukan transaksi ilegal, mengambil alih akun, atau bahkan pencurian identitas.
Selain pencurian data, beberapa tautan berbahaya juga dapat memicu pengunduhan perangkat lunak berbahaya atau malware ke perangkat korban. Malware ini bisa berfungsi sebagai keylogger yang merekam setiap ketikan keyboard, spyware yang memata-matai aktivitas pengguna, atau ransomware yang mengunci data dan meminta tebusan.
Peringatan dari Pakar Keamanan Siber
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara berkala telah mengeluarkan peringatan mengenai peningkatan ancaman siber, termasuk phishing. “Masyarakat harus selalu skeptis terhadap tautan yang tidak dikenal, terutama jika datang dari sumber yang mencurigakan atau menjanjikan konten sensasional,” ujar seorang pakar keamanan siber dari BSSN, Dr. Irwan Santoso, dalam sebuah webinar pada awal Maret 2026. Ia menambahkan, “Verifikasi URL adalah langkah pertama dan paling krusial. Pastikan alamat situs web adalah yang resmi dan bukan tiruan.”
Langkah Pencegahan yang Perlu Diperhatikan
Untuk menghindari menjadi korban phishing, ada beberapa langkah pencegahan yang sangat dianjurkan:
- Verifikasi Sumber: Jangan mudah percaya pada tautan yang disebarkan melalui pesan instan atau media sosial, meskipun terlihat berasal dari teman atau kenalan. Selalu konfirmasi keasliannya.
- Periksa URL: Sebelum mengklik, arahkan kursor ke tautan untuk melihat alamat URL sebenarnya. Pastikan URL tersebut adalah alamat resmi dari platform yang dituju dan perhatikan adanya kesalahan ejaan atau karakter aneh.
- Gunakan Autentikasi Dua Faktor (2FA): Aktifkan 2FA pada semua akun penting Anda (email, media sosial, perbankan). Ini akan menambah lapisan keamanan ekstra, bahkan jika kata sandi Anda berhasil dicuri.
- Perbarui Perangkat Lunak: Pastikan sistem operasi, browser, dan aplikasi keamanan Anda selalu diperbarui ke versi terbaru untuk melindungi dari kerentanan yang diketahui.
- Jangan Bagikan Data Sensitif: Bank atau penyedia layanan resmi tidak akan pernah meminta kata sandi, PIN, atau kode OTP Anda melalui email, SMS, atau telepon.
Ancaman phishing akan terus berkembang seiring dengan tren digital. Oleh karena itu, kesadaran dan kehati-hatian pengguna menjadi benteng pertahanan utama dalam menjaga keamanan data pribadi di era digital ini.
