Penyanyi sekaligus aktor Pradikta Wicaksono, atau yang akrab disapa Dikta, kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena karya musik atau proyek akting terbarunya, melainkan sebuah cerita ringan yang ia bagikan dalam sebuah siniar (podcast) baru-baru ini, yang justru berkaitan dengan hewan peliharaannya.
Dalam perbincangan tersebut, Dikta mengungkapkan impiannya untuk memiliki hunian di Bali. Ia membayangkan sebuah rumah yang terletak di tengah area persawahan, menawarkan suasana yang lebih tenang dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan. “Gue pengen punya rumah di Bali di sawah-sawah gitu,” ujar Dikta, menjelaskan visinya.
Keinginan tersebut kemudian memicu obrolan mengenai kehidupan di dekat alam terbuka. Ketika disinggung kemungkinan munculnya berbagai satwa liar, termasuk ular, karena tinggal dekat alam, Dikta justru memberikan jawaban yang mengundang tawa. “Biawak mah ada gua, namanya Bianca,” kata Dikta, merujuk pada hewan peliharaannya.
Cerita berlanjut ke pengalaman uniknya di media sosial. Dikta mengaku tak menyangka bahwa konten sederhana yang menampilkan biawak peliharaannya, Bianca, justru mampu menarik perhatian jutaan pengguna internet. Menurutnya, unggahan tersebut hanya berisi aktivitas sehari-hari Bianca tanpa konsep khusus maupun proses produksi yang rumit. “Gue ngepost biawak ada di ini gua, yang nonton 14 juta. Cuma tulisan, ‘Wah ini hari pertama nih, hari kedua nih, dia boker di tengah nih.’ Enggak ada apa-apa, cuma si biawak dari jauh pula, 14 juta yang nonton,” ungkapnya, menunjukkan keheranannya.
Dikta kemudian membandingkan pencapaian tersebut dengan unggahan yang berkaitan langsung dengan karya musiknya. Ia mengaku sempat terkejut karena promosi album yang dibuat secara serius justru memperoleh jumlah penonton yang jauh lebih rendah. “Gue posting kemarin album gue, yang nonton 100 ribu. Gue pikir mungkin orang Indonesia udah capek kali ya sama yang serius-serius,” imbuhnya.
Pengalaman tersebut membuat Dikta menyadari bahwa dinamika media sosial sering kali sulit diprediksi. Konten spontan dan menghibur terkadang lebih mudah menarik perhatian publik dibandingkan materi promosi yang telah direncanakan secara profesional dan serius.
