Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran link “Ibu Tiri dan Anak Tiri Part 2 di Dapur Tanpa Sensor” yang kembali marak di berbagai platform media sosial dan aplikasi pesan instan. Link tersebut dipastikan merupakan modus penipuan yang bertujuan mencuri data pribadi pengguna.

Ancaman Phishing di Balik Konten Sensasional

Modus operandi penipuan ini memanfaatkan rasa penasaran publik terhadap konten yang bersifat sensasional atau kontroversial. Pelaku kejahatan siber menyebarkan tautan palsu yang seolah-olah mengarah ke video tersebut. Namun, saat diklik, korban akan diarahkan ke halaman login palsu yang menyerupai platform media sosial atau situs berbagi video.

Pakar keamanan siber, Dr. Budi Santoso, dari Universitas Cyber Indonesia, menjelaskan bahwa jebakan ini sangat berbahaya. “Masyarakat harus selalu waspada terhadap tautan mencurigakan, terutama yang mengklaim berisi konten sensasional. Modus phishing semacam ini dirancang untuk memancing korban agar memasukkan informasi pribadi mereka, seperti username, password, bahkan kode OTP,” ujar Dr. Budi pada Selasa, 14 April 2026.

Dampak dan Kerugian yang Mengintai

Jika korban tidak berhati-hati dan memasukkan data pribadinya ke halaman palsu tersebut, akun media sosial mereka berpotensi diretas. Lebih jauh lagi, data pribadi seperti informasi perbankan atau detail kartu kredit bisa disalahgunakan, yang berujung pada kerugian finansial yang signifikan. Pencurian identitas juga menjadi ancaman serius yang dapat terjadi.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) secara berkala mengingatkan publik untuk tidak mudah tergiur dengan konten viral yang disebarkan melalui tautan tidak dikenal. “Verifikasi sumber informasi adalah langkah pertama dan terpenting untuk menghindari jebakan siber. Jangan pernah memasukkan data sensitif di situs yang tidak terverifikasi keamanannya,” demikian imbauan dari BSSN dalam keterangan resminya.

Langkah Pencegahan untuk Melindungi Diri

Untuk menghindari menjadi korban phishing, ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Pertama, selalu periksa URL atau alamat situs web sebelum memasukkan informasi pribadi. Pastikan alamatnya benar dan memiliki protokol keamanan (HTTPS).

Kedua, jangan mudah percaya pada judul atau deskripsi yang terlalu provokatif. Ketiga, gunakan perangkat lunak antivirus dan keamanan siber yang terpercaya. Keempat, aktifkan fitur otentikasi dua faktor (2FA) pada semua akun digital Anda untuk lapisan keamanan tambahan. Terakhir, laporkan link atau aktivitas mencurigakan kepada pihak berwenang atau platform terkait.