Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) secara intensif memperketat pemantauan harga dan distribusi delapan komoditas pangan utama. Langkah ini dilakukan menjelang perayaan Idul Fitri 2026 guna menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat.

Pelaksana Tugas Kepala Disperindag NTB, Irnadi Kusuma, menjelaskan bahwa pemerintah berupaya keras mengantisipasi lonjakan permintaan yang kerap terjadi. “Delapan komoditas utama tersebut berupa beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam ras, telur, cabai, bawang merah, dan bawang putih,” ujarnya di Mataram, NTB, Selasa (17/3/2026).

Irnadi menuturkan, komoditas-komoditas tersebut memiliki tingkat fluktuasi harga yang cukup tinggi seiring peningkatan permintaan masyarakat menjelang Lebaran. Oleh karena itu, pengawasan ketat menjadi prioritas.

Untuk memastikan stabilitas, Disperindag NTB mengerahkan enumerator di sejumlah pasar induk guna memantau harga dan ketersediaan stok bahan pangan secara langsung. Selain itu, pengawasan juga mencakup rantai distribusi.

“Kami juga melakukan pengawasan terhadap distribusi barang dari distributor hingga ke pasar, serta berkoordinasi secara intensif dengan instansi terkait di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota,” kata Irnadi.

Lebih lanjut, Irnadi memastikan bahwa ketersediaan bahan pokok di NTB masih dalam kondisi cukup dan relatif aman. Produksi gabah di NTB pada tahun 2025 tercatat mencapai sekitar 1,6 juta ton gabah kering giling. Sementara itu, stok beras yang tersimpan di gudang Bulog wilayah NTB saat ini berkisar antara 145 ribu hingga 150 ribu ton, jumlah yang diklaim mampu memenuhi kebutuhan masyarakat NTB hingga sekitar sembilan bulan ke depan.

“Secara umum harga sebagian besar komoditas masih berada dalam kondisi relatif stabil, meskipun terdapat fluktuasi pada beberapa komoditas hortikultura,” pungkas Irnadi.