Di tengah puing dan timbunan lumpur sisa banjir bandang akhir November 2025, sebuah meunasah darurat kini mulai berdiri di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Tempat ibadah sementara ini dibangun langsung di atas lapisan lumpur setinggi 2 hingga 2,5 meter yang telah mengeras, menjadi simbol ketahanan warga menghadapi dampak bencana.

Meunasah Terkubur, Solusi Dibangun di Atas Lumpur

Ketua Posko Darurat Kebencanaan Desa Manyang Cut, Teuku Nazarudin, menjelaskan bahwa kondisi lumpur yang menumpuk membuat upaya pembersihan menjadi mustahil. “Meunasah ini dibangun langsung di atas lumpur yang sudah mengeras. Ketebalannya mencapai 2 sampai 2,5 meter dan sudah tidak mungkin dikeruk lagi,” ujarnya, dilansir dari Antara, Minggu (8/2).

Desa Manyang Cut merupakan salah satu wilayah yang paling parah terdampak banjir bandang. Luapan Sungai Meureudu membawa material kayu dan lumpur, menimbun permukiman termasuk Meunasah Krueng Baroh yang hingga kini masih terkubur. Upaya warga dan relawan untuk membersihkan meunasah lama sempat dilakukan, namun setiap hujan turun, air kembali masuk karena posisi bangunan kini sejajar dengan permukaan sungai.

Melihat kondisi tersebut, kebutuhan akan tempat ibadah menjadi sangat mendesak. Kementerian Agama (Kemenag) bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) kemudian mengambil langkah cepat dengan membangun meunasah darurat ini sebagai bagian dari pemulihan sosial-keagamaan warga.

Meunasah darurat tersebut memiliki ukuran 14×10 meter dengan rangka baja, lantai panggung, serta dinding semipermanen setinggi 1,2 meter. Pembangunannya melibatkan warga setempat dan telah berjalan selama tiga minggu. Saat ini, pengerjaan baru memasuki tahap pemasangan atap.

“Targetnya selesai sebelum Ramadhan. Tapi warga sudah sempat memakainya saat malam Nisfu Syaban, meski belum ada lampu dan kami shalat di tanah,” kata Nazarudin. Selain meunasah, pemerintah juga membangun fasilitas pendukung seperti sumur bor dari Kementerian ESDM dan toilet bantuan perusahaan konstruksi BUMN.

98 Persen Masjid Terdampak Sudah Berfungsi Darurat

Sementara itu, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh mencatat bahwa hampir seluruh masjid dan musala yang terdampak bencana di Aceh sudah kembali digunakan, meskipun banyak yang masih dalam kondisi belum layak sepenuhnya. “Sudah 98 persen masjid dan mushala yang terdampak kembali berfungsi, tetapi masih dalam kondisi darurat,” kata Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari.

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) juga telah menyiapkan bantuan renovasi untuk rumah ibadah yang rusak, dengan alokasi Rp50 juta per masjid dan Rp30 juta per musala. Namun, bantuan tersebut tidak mencakup bangunan yang sudah tidak bisa digunakan sama sekali.

“Harapan kita, masjid dan mushala ini kembali bersih dan berfungsi dengan baik, apalagi sebentar lagi memasuki Ramadhan,” ujar Azhari.