Sebuah video berjudul “Ibu Tiri vs Anak Tiri” yang belakangan viral di berbagai platform media sosial, kini menjadi sorotan tajam dari para pakar keamanan siber. Video sensasional tersebut diduga kuat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab sebagai umpan untuk menyebarkan tautan phishing berbahaya, mengancam data pribadi pengguna internet di Indonesia.
Pengamat teknologi informasi, Dr. Budi Santoso, pada Minggu (15/3/2026), mengungkapkan kekhawatirannya terhadap modus operandi baru ini. “Konten viral seringkali menjadi pintu masuk empuk bagi pelaku kejahatan siber. Mereka tahu masyarakat cenderung penasaran dan kurang waspada saat berhadapan dengan konten yang sedang ramai dibicarakan,” ujar Dr. Budi.
Phishing adalah upaya penipuan yang bertujuan mencuri data sensitif seperti nama pengguna, kata sandi, hingga informasi kartu kredit, dengan menyamar sebagai entitas tepercaya dalam komunikasi elektronik. Dalam kasus video “Ibu Tiri vs Anak Tiri” ini, pengguna yang tergiur untuk menonton video lengkap atau mendapatkan informasi lebih lanjut, diarahkan untuk mengklik tautan yang sebenarnya mengarah ke situs web palsu.
Situs palsu tersebut dirancang menyerupai platform media sosial atau situs berita resmi, kemudian meminta pengguna untuk memasukkan kredensial login mereka. Setelah data dimasukkan, pelaku dapat dengan mudah mengambil alih akun media sosial, email, bahkan akses ke layanan perbankan online, yang berujung pada kerugian finansial atau penyalahgunaan identitas.
Waspada Modus Phishing yang Kian Canggih
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam laporan terbarunya mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah serangan phishing di Indonesia sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026. Modus yang digunakan semakin canggih, tidak hanya melalui email, tetapi juga pesan instan, SMS, dan kini memanfaatkan tren konten viral di media sosial.
“Masyarakat harus selalu waspada dan kritis terhadap setiap tautan yang diterima, terutama jika tautan tersebut berasal dari sumber yang tidak dikenal atau terlihat mencurigakan,” tambah Dr. Budi. Ia menekankan pentingnya memeriksa alamat URL secara teliti sebelum mengklik, memastikan bahwa situs yang dituju adalah situs resmi dan bukan tiruan.
Langkah Pencegahan untuk Melindungi Data Pribadi
Untuk menghindari menjadi korban phishing, ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan:
- Verifikasi Tautan: Selalu periksa URL secara cermat. Perhatikan ejaan yang salah atau domain yang tidak biasa. Lebih baik ketik alamat situs secara manual daripada mengklik tautan yang mencurigakan.
- Aktifkan Autentikasi Dua Faktor (2FA): Fitur ini menambahkan lapisan keamanan ekstra dengan meminta kode verifikasi dari perangkat lain (misalnya ponsel) selain kata sandi.
- Perbarui Perangkat Lunak: Pastikan sistem operasi, peramban web, dan perangkat lunak keamanan (antivirus) selalu dalam versi terbaru untuk mendapatkan perlindungan terbaik dari kerentanan.
- Gunakan Kata Sandi Kuat: Buat kata sandi yang unik dan kompleks untuk setiap akun, hindari penggunaan kata sandi yang sama berulang kali.
- Edukasi Diri: Tingkatkan literasi digital dan pahami berbagai modus kejahatan siber yang ada. Jangan mudah tergiur dengan iming-iming atau konten sensasional yang meminta informasi pribadi.
Dengan meningkatnya ancaman siber, kewaspadaan dan literasi digital menjadi kunci utama bagi masyarakat untuk melindungi diri dari bahaya phishing yang terus mengintai di dunia maya.
