Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Muhammad Syaroni Rofii, menegaskan posisi strategis Indonesia dalam mendorong ketahanan energi dan pangan di kawasan ASEAN. Menurutnya, Indonesia memiliki kapasitas kunci untuk menavigasi arah kebijakan regional di tengah dinamika geopolitik global.

Syaroni, saat dihubungi ANTARA pada Rabu (13/5), menyatakan, “Indonesia sebagai salah satu kekuatan kunci di kawasan memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menavigasi arah ASEAN di tengah situasi geopolitik saat ini.” Ia menambahkan bahwa komitmen Presiden Prabowo Subianto terhadap isu pangan dan energi sejak awal masa pemerintahan dapat menjadi modal penting dalam mengarahkan kebijakan kawasan.

“Tinggal bagaimana mengelola pengaruh di kawasan,” ujarnya.

Peran Strategis Indonesia dan Tantangan ASEAN

Peran strategis tersebut, lanjut Syaroni, dapat diwujudkan melalui beberapa langkah konkret. Ini mencakup pengamanan stok energi dan pangan bersama, prioritas distribusi pangan dan energi bagi negara-negara anggota ASEAN, serta penguatan riset kolaboratif guna mencari sumber energi alternatif.

Isu ketahanan energi, ketahanan pangan, dan keselamatan warga negara ASEAN menjadi prioritas utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Filipina. Syaroni menilai kesepakatan yang dihasilkan para pemimpin ASEAN dalam pertemuan tersebut merupakan langkah krusial untuk menunjukkan sikap kolektif kawasan.

“Negara di ASEAN menyadari bahwa konflik di Timur Tengah memiliki dampak terhadap instabilitas kawasan dan global,” kata Syaroni, menyoroti urgensi kerja sama regional.

Kesepakatan ASEAN untuk memperkuat persediaan energi dan pangan kawasan dinilai sangat penting di tengah ketidakpastian global. Hal ini mencerminkan tingginya kesadaran negara-negara Asia Tenggara terhadap ancaman krisis energi dan pangan global. Gangguan suplai energi dan pupuk memiliki keterkaitan langsung terhadap ketahanan pangan, sehingga para pemimpin ASEAN secara khusus memasukkan isu ini dalam komunike bersama mereka.

Syaroni mengamati bahwa kerja sama di tingkat ASEAN sejauh ini masih cenderung bersifat bilateral antarnegara dan belum banyak inisiatif yang sifatnya kolektif. Ia menekankan, “Konflik di Timur Tengah menjadi pelajaran bahwa ketahanan kawasan sangat ditentukan oleh kolektivitas dan soliditas negara-negara anggota ASEAN.”

Tantangan terbesar ASEAN dalam merealisasikan kerja sama penguatan cadangan energi dan pangan kawasan adalah menyatukan visi di tengah perbedaan kepentingan dan pengaruh kekuatan global seperti Amerika Serikat dan China. “Pengaruh AS dan China yang begitu dominan memiliki kontribusi bagi perbedaan sikap negara-negara ASEAN. Saya kira memilih salah satu pihak adalah isu krusial di ASEAN karena politik luar negeri masing-masing negara berbeda,” pungkasnya.