MAMUJU, KILATNEWS.CO – Ikatan Guru Indonesia (IGI) Sulawesi Barat menginisiasi sebuah gerakan transformatif dalam dunia pendidikan di Mamuju, mendorong para pendidik untuk meninggalkan pola pengajaran berbasis hafalan dan beralih fokus pada pembangunan nalar kritis siswa. Langkah ini dinilai krusial untuk mempersiapkan “Generasi Emas” Indonesia agar mampu bersaing di kancah global.
Ketua IGI Sulawesi Barat, Sutikno, menegaskan bahwa sudah saatnya guru-guru di Indonesia, khususnya di Mamuju, meninggalkan metode pengajaran yang hanya mengandalkan ingatan. Menurutnya, kemampuan bernalar adalah kompetensi fundamental yang sangat dibutuhkan di era saat ini.
“Siswa sekolah dasar tidak bisa dipaksa memahami hal abstrak secara instan. Guru harus mahir menggunakan pendekatan bertahap, mulai dari benda konkret, gambar, baru kemudian masuk ke simbol abstrak,” ujar Sutikno saat membuka pelatihan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) di MAN 1 Mamuju, Kamis (5/3/2026).
Senada dengan pandangan tersebut, narasumber dari Yayasan Penggerak Indonesia Cerdas, Dhitta Puti Sarasvati, menyoroti fenomena yang mengkhawatirkan di mana kelas matematika seringkali kehilangan esensi pembelajarannya akibat prinsip pengajaran yang kurang tepat. Ia meyakini bahwa setiap anak memiliki potensi kecerdasan yang luar biasa.
“Setiap anak pada dasarnya cerdas. Jika diajarkan dengan prinsip yang benar dan guru yang antusias, nalar mereka akan terbangun dengan sendirinya,” kata Dhitta.
Putri mendiang ekonom Rizal Ramli ini menambahkan, tanpa kemampuan analitik yang kuat sejak usia dini, siswa Indonesia berisiko tertinggal jauh dari standar pendidikan negara maju. Ia menekankan bahwa kemahiran matematika bukan sekadar kecepatan berhitung, melainkan lebih pada melatih logika sistematis dan kemampuan memecahkan masalah (problem solving) dalam kehidupan sehari-hari.
Pelatihan Gernas Tastaka ini melibatkan 50 guru dari jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan dijadwalkan berlangsung hingga Jumat, 7 Maret 2026. Agenda ini merupakan langkah konkret untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi nasional melalui penguatan pedagogi yang spesifik.
Inisiatif penting ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sulawesi Barat, Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Barat, serta dukungan legislatif dari Anggota DPR RI, H. Muhammad Zulfikar Suhardi. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat melahirkan standar baru pengajaran yang lebih humanis dan berorientasi pada pengembangan logika siswa.
sumber gambar: jatimnow.com
