Sebuah bangunan dua lantai di Kabupaten Bantul tampak paling terang dibandingkan lingkungan sekitarnya pada Sabtu (14/3) malam. Menjelang waktu salat Isya dan Tarawih, Masjid Al Muharram semakin ramai didatangi jemaah. Penggunaan listrik yang tinggi, terutama saat Ramadan, tidak membuat tagihan masjid melonjak tajam berkat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terpasang.
Ananto Isworo, Takmir Masjid Al Muharram, menjelaskan bahwa aktivitas di masjid memang meningkat signifikan selama Ramadan. “Kegiatan di sini memang semakin ramai saat bulan Ramadaan, terlebih 10 hari terakhir,” terang Ananto kepada Media Indonesia. Ia menambahkan, penggunaan listrik pada malam hari sepenuhnya mengandalkan energi surya.
Hemat Biaya dan Mandiri Energi
Pemanfaatan PLTS ini memungkinkan Masjid Al Muharram menghemat pengeluaran listrik hingga 85 persen. “Selain PLN, kami juga menggunakan listrik tenaga Surya sehingga mampu menghemat pengeluaran masjid (untuk belanja listrik) hingga 85%,” ujar Ananto, pria berusia 48 tahun itu.
Listrik dari PLTS mampu bertahan dari sekitar pukul 18.00 WIB hingga 23.00 WIB. Jika hanya digunakan dari Salat Magrib hingga Salat Isya (18.00 WIB hingga 19.30 WIB), listrik PLTS dapat kembali dimanfaatkan untuk Salat Subuh hingga pukul 06.00 pagi. Setelah itu, hingga pukul 18.00 WIB, Masjid Al Muharram menggunakan listrik dari PLN.
Tidak hanya untuk masjid, listrik dari PLTS juga mengalir ke lima lampu jalan di sekitar masjid, menerangi sekitar 100 meter jalan. “Kita mampu mengoperasikan itu karena kita pakai 4300 KWT dari dua baterai dengan 8 panel Surya,” ungkap Ananto.
Inisiatif Sedekah Energi dari Mosaic
Penggunaan PLTS di Masjid Al Muharram dimulai pada tahun 2023 melalui bantuan program Sedekah Energi dari Mosaic (Muslims for Shared Actions on Climate Impact). Program ini berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 85 juta dari sekitar 5.500 donatur, yang digunakan untuk instalasi, pelatihan, dan operasional.
Program ini sangat membantu mengatasi masalah seringnya pemadaman listrik dari PLN yang kala itu bisa terjadi hingga tiga kali sehari, mengganggu proses ibadah. Dengan adanya panel surya, kegiatan ibadah di Masjid Al Muharram dapat berjalan lancar tanpa hambatan.
Ananto Isworo menekankan pentingnya program semacam ini untuk diaplikasikan di masjid-masjid lain. “Kalau di Indonesia ada 800.000 masjid, (jika pemanfaatan listrik tenaga surya diterapkan) berarti kan kontribusi umat Islam terhadap penggunaan energi bersih sangat besar,” terangnya. Pemanfaatan energi surya ini melengkapi visi Eco Masjid yang telah diterapkan di Masjid Al Muharram sejak 2013, yang mencakup arsitektur ramah lingkungan, penghijauan, panen air hujan, sedekah sampah, masjid ramah anak dan difabel, serta pemanfaatan energi terbarukan.
Masjid sebagai Pusat Edukasi Transisi Energi
Aldy Permana, Project Leader/Director Mosaic, menjelaskan bahwa Program Sedekah Energi bukan sekadar kampanye pengadaan infrastruktur PLTS. “Sedekah Energi bertujuan untuk melakukan solarisasi masjid-masjid di Indonesia,” ungkap Aldy. Program ini hadir sebagai upaya memecahkan kebuntuan dengan menjadikan masjid sebagai pengguna awal (early adopter) teknologi energi bersih.
Menurut Aldy, ketika masjid memasang panel surya, ia tidak hanya menghemat listrik, tetapi juga menjadi alat peraga pendidikan yang paling efektif bagi ribuan jemaah setiap harinya. Masjid mendemokratisasi teknologi yang tadinya dianggap elit menjadi teknologi rakyat, sekaligus menjadi simpul pembelajaran soal isu transisi energi dan perubahan iklim. Selain itu, Sedekah Energi juga memberikan kebermanfaatan sosial dan ekonomi bagi lingkungan setempat.
Program ini telah mendapatkan dukungan donasi dari lebih dari 5.500 orang serta beberapa organisasi, pemerintah, dan swasta, termasuk Kementerian Agama dan Kementerian ESDM. “Saat ini sudah melakukan solarisasi di enam lokasi (masing-masing lokasi sekitar 4-5 ribu watt peak),” terang Aldy.
Dampak Nyata dan Dukungan Pemerintah
Reka Maharwati, Koordinator Enter Nusantara, menambahkan bahwa capaian Sedekah Energi telah menjangkau enam masjid di Indonesia. Lebih dari 20 ribu orang berpartisipasi sebagai donatur, dan 58 pengurus masjid serta komunitas lokal telah mengikuti pelatihan teknis pengelolaan energi terbarukan.
“Kami mencatat, pengurangan emisi karbon 3,4 ton CO2 per tahun/ masjid, 6 masjid yang terinstal setara dengan menanam 2.040 pohon,” ungkap Reka. Ia melihat antusiasme masyarakat dan pengurus masjid untuk belajar tentang krisis iklim dan terlibat aktif dalam implementasi serta pemeliharaan energi terbarukan.
Reka berharap, bauran energi terbarukan dapat lebih cepat tercapai jika proses transisi dan alternatif pendanaan seperti Sedekah Energi mampu diduplikasi oleh pemangku kebijakan. “Sedekah Energi mampu menjangkau transisi energi yang berkeadilan, inisiatif akar rumput dengan skala komunitas perlu didukung agar solusi yang dibuat sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya. Program ini diharapkan dapat menjangkau wilayah pelosok Indonesia yang belum mendapatkan listrik dan menjadi solusi percepatan transisi energi terbarukan.
Upaya Mosaic ini sejalan dengan program pemerintah yang akan mempercepat pembangunan PLTS di berbagai wilayah. Staf Khusus Kementerian ESDM, Pradana Indraputra, dalam Kickoff Sedekah dan Wakaf Energi melalui video (4/3), mengatakan bahwa pemerintah terus berusaha mencapai net zero emission. “Tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga kehidupan yang lebih baik, jaminan masa depan yang lebih hijau,” kata Pradana.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo mendorong percepatan pembangunan PLTS dengan memanfaatkan berbagai skema pendanaan, termasuk Danantara. “(Pembangunan PLTS) baik dengan dalam negeri maupun dengan pihak swasta yang punya teknologi dan mempunyai kemampuan dari segi solar dan baterainya,” terang Rosan, dikutip dari siaran pers Seskab beberapa waktu lalu (5/3).
Rosan menjelaskan, program PLTS menargetkan semua desa di Indonesia, namun pemerintah akan memprioritaskan daerah yang sudah memiliki distribusi. “Jadi kurang lebih dari usulan tadi awal 100 gigawatt mungkin ada 13, dari 100 gigawatt jadi 13 gigawatt terlebih dahulu yang rencananya akan diprioritaskan,” jelasnya. Danantara telah membuat prototipe pembangunan PLTS berkapasitas 1 megawatt di Kabupaten Sumenep, yang akan ditinjau oleh tim ESDM dan Mendikti untuk kemudian dapat direplikasi. (E-2)
