Anwar Satibi, ayah kandung Nizam Syafei (12), mengenang momen krusial yang mengubah pandangannya terkait penyebab meninggalnya sang putra. Dalam sebuah siniar bersama Denny Sumargo, Anwar menceritakan pernyataan tegas seorang dokter perempuan di Rumah Sakit Jampang Kulon yang menyebut luka-luka Nizam akibat penganiayaan, bukan sakit.
Awalnya, Anwar masih memercayai alibi istrinya bahwa luka bakar di sekujur tubuh Nizam disebabkan oleh demam tinggi. Keyakinan tersebut runtuh seketika setelah dokter yang memeriksa Nizam angkat bicara.
“Istri saya menjawab, ‘Ya, ini kan sakit panas ya, si Raja. Jadi kalau sakit panas memang suka panas, kalau panasnya berlebihan suka melepus seperti ini, seperti kesiram air panas katanya gitu’,” ujar Anwar menirukan penjelasan istrinya saat itu.
Namun, saat tiba di rumah sakit, dokter perempuan yang memeriksa Nizam langsung memberikan pernyataan yang mengejutkan. Pernyataan itu disampaikan tanpa ragu di hadapan istri Anwar.
“Dia cek, cek, cek itu di depan istri saya. Dia ngomong di depan istri saya, ‘Bu, kita ini medis ya. Kita tahu mana yang sakit panas, mana yang bukan. Ini bukan karena sakit, tapi ini dianiaya.’ Itu dokternya yang ngomong. Di depan istri saya yang dokter perempuan itu ya. Dokter perempuan itu ngomong lantang loh,” tegas Anwar.
Pernyataan dokter tersebut sontak menyadarkan Anwar. Ia yang saat itu sudah menahan amarah, akhirnya menyadari bahwa apa yang menimpa anaknya bukanlah kejadian biasa.
“Oh saya ini kan Bang udah enggak muda. Maksudnya udah agak lama ya. Saya baru kali ini melihat orang sakit panas sampai pada melepuh gitu kulitnya. Apalagi dikuatkan dengan pernyataan doktor ke saya. Ini bukan karena sakit. Ada luka bakar. Luka bakar,” ungkap Anwar.
Setelah pernyataan tersebut, Nizam segera dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan penanganan intensif. Namun, takdir berkata lain, sekitar dua jam kemudian nyawa Nizam tidak tertolong.
Sebelum Nizam mengembuskan napas terakhir, dokter sempat memanggil Anwar untuk memberikan kesempatan terakhir. “Justru saya nge-dzikirin, ‘tolong dituntun, katanya anaknya’. Dituntun berdoa gitu, dzikir. Udah gitu anak saya lewat. Udah enggak ada napas,” kenang Anwar pilu.
Dokter kemudian menanyakan apakah akan dilakukan tindakan CPR (resusitasi jantung paru). “Dokter kan nanya ini mau, mau di apa? Kata saya jangan, jangan. Kasihan kata saya,” ucap Anwar.
Setelah proses autopsi selesai dilakukan, dokter kembali menegaskan temuannya di hadapan wartawan dan pihak kepolisian. “Pas sudah selesai otopsi, datang wartawan, Pak, dan Bapak polisi itu datang menyatakan memang luka bakar. Pas sudah selesai otopsi,” jelas Anwar.
Bukan hanya luka bakar eksternal yang terlihat, organ dalam Nizam pun mengalami kerusakan parah. Saat Denny Sumargo menanyakan apakah organ dalam juga mengalami luka bakar, Anwar menjelaskan bahwa ia diberi tahu organ dalam Nizam mengalami pembengkakan.
“Kalau yang pada bengkak begitu. Itu paru-paru katanya bengkak,” jawab Anwar. Namun, ia tidak bisa merinci lebih jauh karena pihaknya masih menunggu laporan resmi hasil autopsi dari kepolisian.
“Terus apa lagi ya? Makanya, keputusan nanti aja, cuman dia belum detailkan. Belum, ini mah hanya gambaran aja lah,” tambahnya.
