Harga emas Antam mencetak rekor fantastis, menembus angka di atas Rp3.100.000 per gram pada akhir Januari 2026. Kenaikan signifikan ini, mencapai 60 persen dalam kurun setahun, dinilai oleh pakar ekonomi sebagai sinyal merah ancaman resesi global yang semakin nyata.

Dr. Nanik Linawati, Pakar Ekonomi dari Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, menyebut lonjakan harga logam mulia ini bukan sekadar dinamika pasar biasa. Menurutnya, tren tersebut merefleksikan ketakutan kolektif investor terhadap situasi global yang penuh ketidakpastian.

Emas Sebagai Indikator Resesi Global

“Dunia sedang berada dalam fase ekonomi tidak normal. Lonjakan harga yang tidak wajar ini menjadi indikator kuat bahwa kita sedang bergerak ke ambang resesi,” ujar Nanik saat memberikan analisisnya di Surabaya, Rabu (04/2/2026).

Nanik menjelaskan, pergerakan harga emas dapat dilihat dari dua dimensi waktu. Dalam jangka pendek, harga berpotensi mengalami koreksi atau sedikit penurunan. Hal ini disebabkan oleh aksi profit taking investor yang menjual simpanan emas mereka untuk meraup keuntungan, terutama saat inflasi mulai terlihat terkendali.

Namun, untuk jangka panjang, dosen Senior School of Business and Management (SBM) UK Petra ini memprediksi harga emas akan terus mencari level tertinggi baru. Kondisi ini didorong oleh “benang kusut” geopolitik, mulai dari kebijakan tarif tinggi di Amerika Serikat di bawah kendali Donald Trump, hingga pergeseran aliansi antarnegara yang kian memanas.

Emas: Aset Langka yang Tak Bisa Dimanipulasi

“Emas itu langka dan tidak bisa dimanipulasi oleh kebijakan otoritas manapun. Berbeda dengan saham atau kripto yang suplainya bisa diatur atau diciptakan, emas terikat pada hukum alam dan proses tambang yang memakan waktu bertahun-tahun,” tambah Nanik.

Fenomena larinya modal ke logam mulia ini menandakan adanya krisis kepercayaan terhadap aset produktif. Investor kini cenderung meninggalkan instrumen seperti deposito, saham, hingga kripto, demi menyelamatkan nilai kekayaan mereka di tengah ketidakpastian.

Selama ketegangan geopolitik dan ego kekuasaan para pemimpin dunia tetap tinggi, emas akan terus menjadi benteng terakhir bagi pemilik modal. Meski demikian, Nanik mengingatkan para investor untuk tetap berkepala dingin.

“Emas memang menjadi sandaran nyata di tengah situasi yang tidak menentu. Namun, investor harus tetap tenang agar bisa bertindak bijaksana tanpa rasa takut berlebihan,” tutupnya.