Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, memprediksi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran berpotensi signifikan mendongkrak belanja negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Menurut Bhima, lonjakan tersebut bisa mencapai Rp515 triliun.
Bhima menjelaskan, eskalasi konflik ini dapat mendorong harga minyak mentah menembus level 100 dolar AS hingga 120 dolar AS per barel. Kenaikan ini dipicu oleh potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang menguasai sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Saat ini, harga minyak sudah melonjak sekitar 13,4 persen.
Dalam simulasi APBN 2026, setiap kenaikan 1 dolar AS per barel harga minyak di atas asumsi awal akan menambah belanja negara sebesar Rp10,3 triliun. Mengingat asumsi harga minyak mentah dalam APBN 2026 adalah 70 dolar AS per barel, maka potensi kenaikan belanja negara sangat besar.
Dampak Langsung pada APBN dan Ekonomi
“Artinya, jika minyak tembus 100 dolar AS sampai dengan 120 dolar AS, maka belanja negara bisa naik hingga Rp515 triliun pada 2026,” ujar Bhima saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Ia menambahkan, peluang kenaikan harga minyak masih akan terus berlanjut. Kondisi diperparah dengan penolakan pengajuan asuransi oleh berbagai kapal logistik yang melintasi area konflik, menyebabkan banyak negara, termasuk Indonesia sebagai net importir minyak, kesulitan dalam impor.
Konsekuensi besar juga akan terasa pada harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. “Bukan hanya beban subsidi BBM, tapi juga kompensasi ke Pertamina dan beban subsidi listrik. Ada beban ganda langsung ke APBN. Kondisi diperburuk oleh kekhawatiran flight to quality dari investor menyebabkan pelemahan rupiah,” tambahnya.
Selain sektor energi, Bhima juga menyoroti kerentanan pasokan pangan, khususnya komoditas yang sensitif terhadap fluktuasi kurs dan gangguan rantai impor seperti kedelai, gandum, dan daging. Inflasi yang diimpor dari kenaikan harga minyak dan pangan berpotensi menciptakan efek spiral ke bawah terhadap daya beli masyarakat.
“Masyarakat jelas tidak siap harga BBM dan inflasi harga pangan bergejolak (volatile food) naik berlebihan. Jika konflik berlanjut dan meluas, banyak negara berkembang jatuh pada krisis ekonomi,” tuturnya.
sumber gambar: gesit.id 