Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, mengapresiasi keberhasilan siswa-siswi SDN 25 Banawa yang menerbitkan buku berjudul “Jejak Kasih Ayah dan Ibu”. Karya ini dinilai mampu meningkatkan budaya literasi di wilayah tersebut sejak usia dini.
Dorong Budaya Literasi Sejak Dini
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Donggala, Ansyar Sutiadi, menyatakan bahwa kegiatan yang dilakukan peserta didik di Banawa tersebut merupakan bukti nyata potensi besar anak-anak Donggala. “Tentunya ini menjadi bukti bahwa anak-anak di Donggala memiliki potensi besar jika diarahkan dengan baik. Literasi tidak hanya soal membaca, tetapi juga bagaimana siswa mampu menuangkan ide, gagasan, dan perasaan mereka dalam bentuk tulisan,” kata Ansyar saat dihubungi di Banawa, Senin (4/5/2026).
Ansyar menambahkan, langkah ini dapat menjadi contoh konkret penguatan literasi di sekolah melalui karya nyata siswa. Ia berharap program literasi di SDN 25 Banawa bisa direplikasi pada sekolah lainnya di Kabupaten Donggala, sehingga gerakan literasi benar-benar hidup dalam aktivitas belajar siswa sehari-hari. “Pemerintah daerah akan memfasilitasi sekolah dalam mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis literasi,” tegasnya.
Kumpulan Narasi Menyentuh dari 35 Siswa
Sementara itu, guru pembina literasi SDN 25 Banawa, Safrudin, menjelaskan bahwa buku “Jejak Kasih Ayah dan Ibu” merupakan kumpulan narasi menyentuh yang ditulis oleh 35 siswa-siswi kelas 5. “Jadi karya ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkan hasil dari proses pembimbingan intensif dalam program menulis cerita yang dijalankan di SDN 25 Banawa,” ujar Safrudin.
Ia menuturkan, hadirnya buku ini berawal dari visi sekolah untuk menghidupkan semangat literasi secara konkret, didukung penuh oleh Kepala Sekolah. “Hadirnya buku ini berkat dukungan Kepala Sekolah yang mengarahkan agar dilakukan program peningkatan literasi bagi para siswa. Salah satu langkah nyata yang kami ambil adalah dengan melakukan pembimbingan menulis cerita,” sebutnya.
Safrudin menekankan pentingnya memberi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dalam bentuk karya yang bisa dinikmati orang lain, bukan hanya sekadar mengajak membaca buku. “Kami ingin membiasakan para siswa dengan aktivitas-aktivitas literasi secara nyata, jadi tidak hanya kami ajak membaca, tapi kami mengajak mereka untuk membuat karya secara langsung. Melalui buku ini, mereka belajar bahwa suara dan cerita mereka punya nilai,” pungkasnya.
