Memasuki bulan ketiga pascabencana, ribuan warga korban banjir di Provinsi Aceh masih harus berjuang menghadapi kerasnya hidup. Sebanyak 12.994 penyintas terpaksa menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah di tenda-tenda pengungsian, jauh dari kenyamanan rumah yang telah hancur.
Ramadan Penuh Tantangan di Pengungsian
Kondisi di pengungsian sangat memprihatinkan. Setiap malam, udara dingin menusuk tulang, ditambah serangan nyamuk yang tak henti-hentinya mengganggu istirahat. Para pengungsi juga bergelut dengan kelangkaan panganan layak untuk berbuka puasa, krisis fasilitas tempat tidur, serta persiapan sahur yang serba darurat.
Tak hanya kehilangan tempat tinggal, mata pencarian warga juga luluh lantak. Sawah-sawah mereka kini tertimbun lumpur tebal, dan kebun-kebun yang menjadi tumpuan hidup telah tergerus air bah. Ribuan warga kehilangan sumber penghasilan secara permanen, menambah berat beban hidup mereka.
Uluran Tangan dari Perantau Aceh
Di tengah kesulitan yang mendera, secercah harapan datang dari para perantau Aceh di Jakarta. Dikoordinir oleh pengusaha tenda, Haji Nazaruddin, mereka menyalurkan ratusan paket Lebaran kepada korban banjir di tanah kelahiran. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban menjelang Idulfitri 1447 H.
Paket Lebaran yang disalurkan terdiri dari kain sarung, tikar tempat duduk, dan kelambu. Salah satu lokasi utama penyaluran bantuan adalah Desa Lubuk Sidup (Neubok Sidop), Kecamatan Sekrak, Kabupaten Aceh Tamiang. Desa pedalaman ini merupakan wilayah yang paling parah diterjang banjir besar pada 24-27 November 2025 lalu, di mana hampir seluruh rumah warga hanyut terbawa arus.
Haji Nazaruddin, perantau asal Leupeuem, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, menjelaskan bahwa sumbangan ini merupakan hasil patungan dari para perantau Aceh dan donasi rekan-rekan mereka di Pulau Jawa. “Meskipun merantau nun jauh di negeri orang, namun tidak memalingkan dari apa yang dirasakan penyintas banjir di kampung halaman. Insya Allah kami akan selalu berbagi agar mereka segera bangkit kembali,” tutur Nazaruddin kepada Media Indonesia, Senin (9/3).
Penyaluran bantuan kali ini merupakan gelombang ketiga. Sebelumnya, kelompok perantau ini telah menyalurkan 8 unit sumur bor ukuran besar dan sedang untuk mengatasi krisis air bersih. Fasilitas air bersih tersebut dialokasikan untuk Pesantren Putri Mudi Mesra Samalanga di Kabupaten Bireuen, serta beberapa titik di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Tamiang.
Selain kepada keluarga penyintas, bantuan juga menyasar fasilitas ibadah seperti masjid dan pesantren di sekitar lokasi bencana. Nazaruddin berharap kain sarung yang diberikan dapat digunakan sebagai selimut pengusir dingin atau pakaian untuk Salat Idulfitri mendatang. Sementara tikar dan kelambu diharapkan bisa memberikan sedikit kenyamanan bagi warga yang masih bertahan di pengungsian.
Banjir besar di akhir tahun 2025 telah menghancurkan infrastruktur ekonomi warga di Aceh Tamiang, menyebabkan ribuan warga kehilangan tempat tinggal secara permanen. Upaya pemulihan masih terus berlanjut, dengan harapan para penyintas dapat segera bangkit dan menata kembali kehidupan mereka.
