Di tengah hiruk pikuk Kota Malang, sebuah inisiatif luar biasa lahir dari Malang Autism Center (MAC) yang tidak hanya berfokus pada terapi, tetapi juga pemberdayaan ekonomi. MAC secara resmi mengoperasikan unit bisnis air minum kemasan bernama MAC Water, sebuah lini usaha yang menempatkan remaja autisme sebagai motor penggerak utama, mulai dari produksi hingga administrasi.

Mewujudkan Kemandirian Melalui Produksi Air Minum

Ide inovatif ini digagas oleh Founder Malang Autism Center, Mohammad Cahyadi. Ia mengungkapkan bahwa gagasan tersebut bermula dari tingginya konsumsi air di asrama mereka yang mencapai 60 galon per bulan. Daripada terus mengeluarkan biaya untuk membeli, Cahyadi memutuskan untuk berinvestasi pada mesin pengolahan air minum.

“Investasi ini sangat layak. Anak-anak yang biasanya dilatih menggoreng saja bisa, apalagi mengoperasikan mesin yang hanya perlu menekan tombol,” ujar Cahyadi, menjelaskan kemudahan adaptasi remaja autisme terhadap proses produksi.

Hanya dalam waktu tiga hari, remaja autisme di pusat tersebut berhasil menguasai seluruh proses produksi. Saat ini, MAC Water memiliki kapasitas produksi hingga 1.000 botol per hari, dengan melibatkan tiga orang tenaga kerja inti. Dua di antaranya, Aan dan Asdin, telah diangkat menjadi karyawan resmi MAC yang bekerja delapan jam sehari. Mereka tidak hanya menerima gaji rutin, tetapi juga bonus tambahan setiap kali ada proyek besar.

Visi Inklusif dan Strategi Pemasaran Unik

Cahyadi menegaskan bahwa unit bisnis ini dirancang sebagai ekosistem inklusif yang luas. Ia memiliki visi jangka panjang di mana seorang remaja autisme bisa menjabat sebagai CEO, sementara rekan disabilitas lainnya mengelola konten media sosial melalui bahasa isyarat.

Berbeda dengan merek air minum kemasan pada umumnya, MAC Water menerapkan strategi pemasaran yang unik. Mereka tidak menyasar warung-warung konvensional, melainkan fokus pada komunitas dan instansi.

“Target kami adalah perusahaan, ibu-ibu pengajian, hingga acara tahlilan. Kami tidak menjual ke warung agar tetap menjaga nilai sosialnya,” jelas Cahyadi. Produk ini dijual seharga Rp30.000 per karton yang berisi 24 botol ukuran 330 ml.

Mengajak Perusahaan dan Pemerintah Berkolaborasi

Cahyadi juga mengajak perusahaan besar untuk mengubah pola pikir dalam menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR). Menurutnya, dukungan tidak selalu harus dalam bentuk dana hibah, melainkan keberanian untuk menyerap produk buatan kelompok disabilitas.

“Perusahaan bisa menyisihkan sebagian kebutuhan air minum karyawannya untuk membeli dari MAC Water. Itu sudah bentuk CSR nyata yang menghidupi lapangan kerja anak-anak ini,” tambahnya.

Meskipun baru berjalan dalam hitungan minggu, Cahyadi optimistis bisnis ini akan berkembang pesat. Ia berharap pemerintah daerah mulai melirik dan mendorong pemangku kepentingan untuk mendukung ekosistem kerja inklusi seperti ini.

“Kami dari sektor swasta sudah membuktikan bahwa anak autisme bisa bekerja dan mandiri. Sekarang tinggal kemauan pemerintah untuk benar-benar mengurus warga disabilitasnya,” pungkasnya.