Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memamerkan beragam produk inovasi ramah lingkungan hasil karya generasi muda pelestari hutan. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian peluncuran film dokumenter “Merawat Esok” yang berlangsung di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia Semiawan, menjelaskan bahwa produk-produk bernilai ekonomi tinggi seperti madu dan kopi yang dipamerkan merupakan hasil binaan Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan. Kehadiran produk-produk ini menunjukkan kontribusi signifikan generasi muda dalam pelestarian hutan.

“Kiprah dari generasi muda ini cukup signifikan. Selain menyaksikan film inspiratif, kawan-kawan bisa melihat booth yang menampilkan karya-karya inovasi anak-anak muda, ada madu dan juga kopi. Ini membuktikan mereka mampu merawat alam sekaligus memanfaatkannya secara berkelanjutan,” ujar Indra Exploitasia Semiawan.

Indra menambahkan, karya-karya kreatif tersebut lahir dari tangan para mahasiswa dan pemuda penggerak yang berhasil memanfaatkan potensi perhutanan sosial tanpa merusak tegakan pohon. Melalui inovasi ini, generasi muda didorong untuk menjadi motor penggerak ekonomi hijau (green economy) di masa depan.

Kementerian Kehutanan mencatat kontribusi finansial dari program perhutanan sosial telah menembus angka Rp1,08 triliun sejak tahun 2023. Mayoritas kontribusi ini disumbang oleh komoditas bukan kayu, seperti bambu, rotan, madu, rempah-rempah, serta pemanfaatan jasa lingkungan.

Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Rut Krüger Giverin, yang turut meninjau langsung pameran tersebut, mengaku sangat terkesan dengan kreativitas anak-anak muda Indonesia dalam menciptakan solusi berbasis alam atau nature-based solutions.

“Sangat menginspirasi berada di sini dan melihat peran anak-anak muda menciptakan solusi inovatif melalui agroforestri. Saya telah melakukan banyak percakapan menarik dengan para pelajar yang memproduksi madu, kopi yang lezat, hingga berbagai produk inovatif lainnya,” kata Giverin.

Menurut Giverin, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) melalui sistem agroforestri ini menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia siap menghadapi tantangan perubahan iklim global. Aksi nyata ini juga berdampak ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan.

Melalui pameran inovasi ini, Giverin berharap dapat memicu semangat kewirausahaan lingkungan di kalangan generasi muda di seluruh Indonesia. Hal ini penting guna mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca pada sektor kehutanan dan lahan, sebagaimana komitmen Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030.

Norwegia, lanjut Giverin, berkomitmen penuh mendukung target Indonesia FOLU Net Sink hingga 2030. Pemerintah Norwegia telah menyalurkan kontribusi dana berbasis hasil (result-based contribution) senilai 216 juta dolar AS. Dukungan pendanaan ini menjadi modal penting untuk aksi sektor kehutanan FOLU Net Sink Indonesia, yang berupaya menekan angka emisi gas rumah kaca dari yang diprediksi sebesar 2,8 miliar ton CO2 ekuivalen pada 2030, menjadi 1,2 miliar ton CO2 ekuivalen.

Adapun strategi utama untuk mencapai target tersebut meliputi penanaman pohon guna meningkatkan cadangan karbon, menjaga kawasan hutan lindung dan taman nasional sebagai stok karbon, serta perlindungan lahan gambut yang memiliki potensi emisi 20 kali lipat lebih tinggi dari tanah biasa.