Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat, 20 Februari 2026, telah mengerahkan tim di 37 lokasi di seluruh Indonesia untuk melakukan pemantauan hilal. Upaya ini merupakan bagian krusial dalam penentuan awal bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang akan diputuskan melalui oleh (Kemenag) pada sore hari ini.

Pemantauan hilal atau rukyatul hilal ini menjadi salah satu pilar utama dalam metode penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia, yang mengombinasikan perhitungan astronomis (hisab) dengan pengamatan langsung. Data hisab yang telah disiapkan oleh BMKG, meliputi posisi hilal, ketinggian, dan elongasi (jarak sudut bulan dari matahari), akan menjadi panduan awal bagi tim di lapangan.

Peran BMKG dan Kriteria MABIMS

Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Dr. Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa data hisab yang mereka siapkan sangat akurat. “Data hisab yang kami siapkan sangat akurat dan akan menjadi panduan awal bagi tim di lapangan. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Kementerian Agama melalui Sidang Isbat,” ujarnya.

BMKG juga menyediakan peta visibilitas hilal yang menunjukkan potensi terlihatnya hilal di berbagai wilayah. Kriteria yang digunakan dalam penentuan ini adalah kriteria MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Jika hilal tidak memenuhi kriteria ini atau tidak dapat terlihat, bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari.

Sidang Isbat Kementerian Agama

Hasil pemantauan dari 37 lokasi BMKG, ditambah dengan laporan dari lebih dari 100 titik rukyat yang dikoordinasikan oleh Kemenag, akan dibawa ke Sidang Isbat. Sidang ini akan dipimpin oleh Menteri Agama dan dihadiri oleh perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), ormas-ormas Islam, pakar astronomi, serta perwakilan negara sahabat.

Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Prof. Dr. Kamaruddin Amin, menegaskan pentingnya proses ini. “Kami mengundang seluruh elemen masyarakat, termasuk ormas Islam dan pakar astronomi, untuk bersama-sama menyaksikan proses Sidang Isbat. Ini adalah wujud kebersamaan dalam menentukan awal Ramadan,” kata Prof. Kamaruddin.

Beberapa lokasi pemantauan strategis yang menjadi perhatian antara lain Observatorium Bosscha di Bandung, Pantai Anyer di Banten, Tanjung Kodok di Lamongan, dan Pantai Galesong di Makassar. Lokasi-lokasi ini dipilih karena memiliki kondisi geografis yang mendukung pengamatan hilal.

Potensi Perbedaan dan Harapan Kesatuan

Meskipun pemerintah melalui Kemenag berupaya menyatukan pandangan, potensi perbedaan awal Ramadan dengan beberapa ormas Islam, seperti Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab wujudul hilal, tetap ada. Namun, pemerintah terus mendorong dialog dan pemahaman bersama demi terciptanya kesatuan umat.

Jika hilal berhasil terlihat dan memenuhi kriteria MABIMS pada 20 Februari 2026, maka 1 Ramadan 1447 H akan jatuh pada Sabtu, 21 Februari 2026. Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat atau tidak memenuhi kriteria, maka bulan Syaban akan digenapkan, dan 1 Ramadan akan jatuh pada Minggu, 22 Februari 2026. Keputusan resmi akan diumumkan setelah Sidang Isbat selesai.