Dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan signifikan terhadap mata uang utama dunia pada perdagangan Senin (02/03/2026), sementara Euro tertekan di tengah kekhawatiran pasar global. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan harga energi, khususnya minyak mentah, menyusul eskalasi konflik yang melibatkan Iran di Timur Tengah.

Dampak Konflik Iran terhadap Pasar Global

Analis pasar menyebutkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan produsen minyak utama telah memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan. Harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan melonjak tajam, mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga energi ini secara langsung membebani ekonomi negara-negara importir, terutama di Eropa, yang sangat bergantung pada pasokan energi dari luar.

Penguatan Dolar AS mencerminkan statusnya sebagai aset safe-haven di kala ketidakpastian global. Investor cenderung beralih ke Dolar AS dan obligasi pemerintah AS saat risiko geopolitik meningkat. Sebaliknya, Euro melemah karena prospek ekonomi Zona Euro yang sudah rapuh semakin tertekan oleh biaya energi yang lebih tinggi dan potensi inflasi yang memburuk.

Proyeksi Pasar dan Kebijakan Moneter

Para ekonom memprediksi bahwa jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut atau bahkan memburuk, tekanan terhadap Euro dan mata uang lainnya akan semakin besar. Bank sentral Eropa (ECB) mungkin menghadapi dilema antara menahan inflasi yang didorong oleh energi atau mendukung pertumbuhan ekonomi yang melambat. Sementara itu, Federal Reserve AS mungkin memiliki lebih banyak ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat jika Dolar terus menguat dan inflasi domestik tetap terkendali.

Kenaikan harga minyak juga berpotensi memicu inflasi di banyak negara, memaksa bank sentral untuk mempertimbangkan langkah-langkah pengetatan moneter lebih lanjut. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan bagi prospek pertumbuhan ekonomi global di tahun 2026.

sumber gambar: gesit.id