Ratusan calon jemaah haji (CJH) asal Tulungagung teridentifikasi masuk kategori risiko tinggi untuk keberangkatan tahun 2026. Data terbaru dari Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Tulungagung menunjukkan, sebanyak 345 CJH memiliki riwayat penyakit yang memerlukan perhatian khusus selama pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.

Kepala Kemenhaj Tulungagung, Suryani, mengungkapkan total 1.167 CJH dari wilayahnya akan diberangkatkan tahun ini, di mana 400 di antaranya adalah lansia. “Beberapa waktu lalu ada dua CJH yang meninggal dunia yang kini sudah diganti dengan CJH cadangan,” ujar Suryani pada Sabtu (2/5/2026).

Suryani menjelaskan bahwa pemetaan risiko tinggi tidak hanya didasarkan pada usia. “Tidak semua CJH yang masuk kategori risiko tinggi adalah lansia. Pemetaan didasarkan pada riwayat penyakit yang dimiliki oleh jemaah,” tegasnya.

Ia menambahkan, salah satu CJH tertua berasal dari Desa Aryojeding, Kecamatan Rejotangan, dengan usia mencapai 96 tahun. “Kalau dari data kami, CJH yang berusia 84 tahun lebih ada 42 orang. Dan ada satu CJH yang sudah berusia 96 tahun,” pungkas Suryani.

Para CJH Tulungagung akan diberangkatkan dalam delapan kelompok terbang (Kloter) berbeda. Kloter 32 dan 34, masing-masing dengan 2 CJH, telah berangkat pada 29 April 2026 lalu. Selanjutnya, Kloter 102 yang terdiri dari 380 CJH dijadwalkan berangkat pada 17 Mei 2026. Tiga kloter berikutnya, yakni Kloter 103 (379 CJH), Kloter 104 (380 CJH), dan Kloter 105 (28 CJH), akan menyusul pada 18 Mei 2026. Kloter 109 dengan 2 CJH akan berangkat pada 19 Mei 2026, dan terakhir Kloter 132 yang membawa 6 CJH akan diberangkatkan pada 20 Mei 2026.