Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mengambil langkah strategis untuk memperkuat peluang transaksi bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjelang perayaan Idulfitri 2026. Dukungan ini diwujudkan melalui pembukaan akses promosi yang lebih luas serta peningkatan visibilitas jenama lokal di pasar.

Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kemenekraf, Yuke Sri Rahayu, menjelaskan fokus intervensi kementerian. “Kementerian Ekraf memfokuskan intervensinya pada aspek akselerasi usaha, yang bertujuan menyiapkan pelaku dan jenama ekonomi kreatif untuk meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat daya saing, serta memperluas akses pasar,” kata Yuke dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta pada Kamis (19/3/2026).

Langkah ini menjadi krusial mengingat tantangan yang dihadapi sejumlah perajin lokal. Sebagai contoh, di Desa Medong, Mekarjaya, Pandeglang, Banten, sebanyak 157 perajin topi anyaman daun pandan terancam kehilangan mata pencarian setelah kerja sama ekspor dihentikan sejak Februari 2026, sementara pasar lokal belum mampu menyerap produk dalam jumlah besar.

Yuke menyoroti potensi besar ekonomi kreatif di sektor fesyen dan kuliner selama momen Ramadhan hingga Idulfitri. Peningkatan aktivitas sosial, budaya, dan konsumsi masyarakat menjadi pendorong utama. Di sektor fesyen, tren busana sopan atau modest wear modern semakin diminati sebagai simbol identitas dan kebersamaan. Sementara itu, sektor kuliner mengalami lonjakan permintaan melalui budaya berbagi bingkisan lebaran, produk praktis seperti makanan beku untuk sahur, serta takjil inovatif bercita rasa lokal dengan kemasan premium.

Untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan peluang transaksi, Kemenekraf secara aktif melibatkan jenama kuliner dan fesyen dalam berbagai kegiatan promosi dan pemasaran. Beberapa di antaranya adalah Festival Jejak Jajanan Nusantara 2026 yang bekerja sama dengan Kemenko PMK, Imlek Festival, serta Modest Luxe by Scarf Media. “Melalui kegiatan tersebut, pelaku usaha ekraf diberikan ruang untuk memperkenalkan produk, memperluas jejaring pasar, serta meningkatkan penjualan di tengah meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama Ramadhan,” tambah Yuke.

Selain itu, Kemenekraf juga mendukung partisipasi produk kreatif dalam pameran seperti Garis Poetih by Ivan Gunawan, serta mendukung pertumbuhan industri parfum dan aroma lokal melalui pameran Jagat Aroma dan pameran fesyen dan gaya hidup bernuansa Ramadhan, Alif Raya Market.

Yuke menegaskan bahwa Kemenekraf akan terus memfokuskan intervensinya pada akselerasi UMKM dengan menyediakan beragam fasilitasi. Ini mencakup penguatan kualitas produk, pengemasan dan branding, peningkatan kapasitas usaha, serta dukungan promosi dan jejaring bisnis. Sejumlah program strategis telah dirancang untuk mendorong produk lokal agar lebih kompetitif dan diminati pasar.

Program-program tersebut meliputi Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK) yang mengakselerasi pegiat fesyen, kriya, dan kuliner nasional untuk go global. Ada pula Bedah Desain Kemasan (Bedakan) yang mendampingi pegiat ekraf untuk meningkatkan perekonomian melalui pembuatan identitas visual dan redesign kemasan. Terakhir, program Masak Bersama Master Chef (MASAMO) bertujuan membantu pelaku usaha kreatif menghadirkan produk-produk baru.

Kemenekraf juga menunjukkan dukungannya melalui eksposur publikasi kegiatan jenama lokal pada media sosial resmi @ekraf.ri.