Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sulawesi Tengah (Sulteng) memperkuat program pembinaan moral bagi anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Palu. Langkah ini diambil guna membentuk karakter serta mempersiapkan anak binaan kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik.
Kepala Kanwil Ditjenpas Sulteng, Bagus Kurniawan, pada Minggu (26/4/2026) di Palu, menegaskan pentingnya pembinaan rohani sebagai fondasi utama. “Pembinaan rohani menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran diri. Anak-anak ini tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik,” ujar Bagus.
Menurut Bagus, pendekatan rohani tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga berdampak signifikan pada perubahan sikap dan pola pikir anak binaan. Program ini merupakan bagian dari strategi pembinaan yang fokus pada perubahan perilaku dan penguatan nilai-nilai keagamaan sebagai bekal hidup setelah bebas.
Kegiatan pembinaan rohani dilaksanakan secara rutin dengan pendampingan intensif dari petugas serta pembina keagamaan di dalam LPKA Kelas II Palu. Ditjenpas Sulteng menargetkan agar anak binaan tidak hanya menyelesaikan masa pidana, tetapi juga memiliki bekal moral dan mental yang memadai untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di tengah masyarakat.
Sementara itu, Kepala LPKA Palu, Welli, mengungkapkan bahwa program pembinaan rohani ini mulai menunjukkan hasil positif. Hingga saat ini, tujuh anak binaan telah berhasil khatam Al Quran, sebuah capaian yang diperoleh melalui pendampingan intensif dan pendekatan personal.
“Ada tujuh anak binaan yang sudah khatam Al Quran. Ini bukan sekadar capaian, tetapi bagian dari proses perubahan yang kami lihat langsung, baik dari kedisiplinan maupun sikap mereka sehari-hari,” kata Welli. Ia menambahkan, program ini merupakan bagian dari pendekatan terpadu yang menggabungkan aspek mental, spiritual, dan sosial dalam proses pembinaan.
Melalui program komprehensif ini, diharapkan anak binaan tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga mampu kembali ke masyarakat dengan perubahan sikap serta kesiapan mental yang lebih baik.
