Kadin Institute resmi menjalin kerja sama dengan Jerman untuk memperluas program pendidikan dan pelatihan vokasi. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan bersama Handwerkskammer Dortmund dan Industrie- und Handelskammer Trier di Surabaya pada Jumat (27/2/2026), membuka peluang bagi generasi muda Indonesia untuk magang di negara tersebut.
Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan wujud nyata dari konsep “link and match” antara pendidikan dan kebutuhan industri. “Saat ini kami memiliki 17 program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri Jerman didukung sertifikasi ganda,” ujar Indah di Surabaya, Sabtu (28/2/2026). Ia menambahkan, kerja sama ini strategis untuk mengatasi tantangan pengangguran nasional dengan menghadirkan kesempatan kerja konkret.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, yang menyebutkan bahwa sekitar 80 persen program Kadin Jatim berfokus pada vokasi berbasis sistem ganda dan kini mulai terjalin dengan mitra luar negeri. Kepala Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur, Sigit Priyanto, turut menilai kerja sama ini sejalan dengan tuntutan global yang membutuhkan sumber daya manusia (SDM) dengan kompetensi berstandar internasional.
Dari pihak Jerman, Managing Director of Vocational Education and Training Center HWK Dortmund, Tobias Schmidt, mengungkapkan bahwa negaranya menghadapi kekurangan tenaga kerja profesional di sektor skilled crafts. Kekurangan ini terutama terasa di bidang plumbing, sanitasi, konstruksi, elektrisi, dan keahlian teknis lainnya.
Tobias Schmidt menekankan bahwa tantangan terbesar dalam program pemagangan internasional adalah penguasaan bahasa Jerman, di mana peserta diwajibkan memiliki kemampuan minimal B1, bahkan idealnya B2. “Kita (Kadin dan Jerman) akan mengembangkan jalur yang kuat dan inovatif bagi talenta muda antara Indonesia dan Jerman. Ini adalah momen yang patut kita rayakan,” kata Tobias.
Senada, Managing Director IHK Trier, Ulrich Schneider, menjelaskan bahwa wilayah Trier juga mengalami kekurangan tenaga kerja yang serius, khususnya di sektor pariwisata dan hospitalitas. Sebagai kota tertua di Jerman dan destinasi wisata utama, Trier sangat bergantung pada sektor pariwisata, namun saat ini hotel, restoran, dan sektor layanan kesulitan mencari tenaga profesional.
Ulrich Schneider menegaskan bahwa fokus kerja sama ini bukan sekadar jumlah peserta, melainkan keberlanjutan dan kualitas program dengan sistem pelatihan kerja ganda atau dual vocational training system. Ia menambahkan, “Peserta harus memiliki kemampuan bahasa minimal B1, namun dalam praktiknya perlu dipersiapkan hingga B2, serta memiliki kontrak pendidikan dengan perusahaan sebelum mengajukan visa.”
Terkait fasilitasi dan perlindungan, Pengurus Proyek Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Niklas Cramer, memastikan bahwa peserta Indonesia di Jerman akan dilindungi oleh hukum ketenagakerjaan setempat. “Peserta Indonesia akan menerima kontrak yang sama dengan pekerja Jerman serta mendapat hak dan kewajiban yang setara,” ujarnya.
Cramer juga menjelaskan bahwa lulusan tidak diwajibkan langsung kembali ke Indonesia. Setelah kontrak pelatihan berakhir, mereka memiliki waktu sekitar 12 bulan untuk mencari pekerjaan baru di Jerman sebelum visa berakhir. Selama pelatihan dua hingga 3,5 tahun, peserta akan menerima tunjangan sekitar 1.000 euro per bulan pada tahun pertama, yang akan meningkat setiap tahunnya. “Ini bukan gaji penuh, tetapi tunjangan pelatihan. Pendidikan dilakukan melalui sistem dual, dua hari di sekolah vokasi dan tiga hari di perusahaan,” pungkas Cramer.
