Gubernur Sumatra Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, menegaskan kembali urgensi menghidupkan nilai-nilai pendidikan berbasis keluarga. Penegasan ini disampaikan saat membuka Seminar Nasional “Kiprah Rahmah El Yunusiyyah sebagai Pahlawan Nasional dalam Pengembangan Pendidikan di Indonesia” di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP) pada Senin (4/5) lalu.
Di hadapan sekitar 1.000 peserta yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, guru, hingga perwakilan organisasi perempuan, Mahyeldi menekankan bahwa seminar ini bukan sekadar ajang mengenang sejarah. Ia melihatnya sebagai momentum krusial untuk mencari solusi atas berbagai persoalan pendidikan yang semakin kompleks saat ini.
Relevansi Pemikiran Rahmah El Yunusiyyah
“Seminar ini kita gagas bukan hanya untuk mengenang sejarah. Nilai-nilai yang diajarkan Ibu Rahmah El Yunusiyyah sangat realistis untuk menjawab persoalan pendidikan terkini, sehingga perlu kembali diimplementasikan dalam proses pembelajaran saat ini,” tegas Mahyeldi.
Mahyeldi menyoroti fenomena hubungan antara guru dan murid yang kian memprihatinkan. Ia menyebut, tak jarang gesekan terjadi hingga berujung konflik yang masuk ranah hukum. Menurutnya, kondisi ini mengindikasikan adanya krisis yang memerlukan solusi agar esensi pendidikan tidak luntur.
“Kita melihat sekarang hubungan guru dan murid tidak jarang mengalami gesekan yang tidak sepatutnya. Bahkan ada yang sampai dilaporkan ke kepolisian. Ini sudah keluar dari ruh pendidikan,” ujarnya.
Gubernur menilai, akar dari berbagai persoalan sosial tersebut terletak pada lemahnya ketahanan keluarga. Ia menyayangkan, meskipun Peraturan Daerah (Perda) terkait ketahanan keluarga sudah ada di Sumbar, implementasinya masih sangat lemah.
“Kita bicara narkoba, kembali permasalahan dasarnya ada di tingkat keluarga. Perilaku menyimpang, juga kembali ke keluarga. Tapi ironisnya, setiap orang yang akan berkeluarga justru tidak dibekali secara serius tentang ketahanan keluarga,” kata Mahyeldi.
Pendidikan Diniyyah Puteri sebagai Model
Sebagai contoh, Mahyeldi mengemukakan sistem pendidikan keluarga yang diterapkan Rahmah El Yunusiyyah melalui Diniyyah Puteri. Sejak usia dini, perempuan telah dibekali dengan ilmu rumah tangga dan kehidupan, di samping ilmu agama, kemampuan bertutur dan berlogika, serta disiplin ilmu lainnya.
“Saya pernah tanya alumni Diniyyah Puteri, ternyata pelajaran tentang ketahanan keluarga itu sudah diajarkan sejak SMP. Sementara kita, menjelang menikah hanya dapat pembekalan dua jam. Ini tentu tidak cukup,” tegasnya.
Konsep pendidikan yang dirintis Rahmah El Yunusiyyah, lanjut Mahyeldi, terbukti berhasil melahirkan generasi perempuan tangguh dan mandiri. Ia bahkan menyebut tokoh besar seperti Rasuna Said sebagai salah satu bukti keberhasilan tersebut.
“Beliau mempersiapkan perempuan bukan hanya untuk rumah tangga, tapi juga menjadi pribadi mandiri dan berwawasan luas. Hasilnya, bisa kita lihat, banyak tokoh-tokoh besar lahir dari sana,” ujarnya.
Dukungan Pemerintah Pusat dan Tujuan Seminar
Menteri Kebudayaan RI, yang diwakili oleh Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Feri Arlius, turut hadir dalam seminar tersebut. Dalam sambutannya, Feri menegaskan bahwa Rahmah El Yunusiyyah adalah pelopor pendidikan perempuan di Indonesia yang pemikirannya tetap relevan hingga kini.
“Beliau adalah arsitek pendidikan perempuan pertama di Indonesia melalui Diniyyah Puteri. Di tengah keterbatasan akses pendidikan saat itu, beliau membuka jalan bagi kemandirian intelektual dan spiritual perempuan,” ungkap Feri.
Pemerintah pusat, kata Feri, memberikan perhatian serius terhadap pengembangan Diniyyah Puteri sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah pendidikan nasional. “Keberadaan Diniyyah Puteri masih sangat relevan. Kementerian Kebudayaan akan memberikan dukungan, yang saat ini masih dalam tahap pembahasan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumbar, Syaifullah, selaku ketua pelaksana seminar, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menggali kembali pemikiran Rahmah El Yunusiyyah dan mengontekstualisasikannya dengan tantangan pendidikan modern.
“Seminar ini diharapkan melahirkan gagasan baru serta menginspirasi generasi muda, khususnya perempuan, untuk meneladani perjuangan beliau,” pungkas Syaifullah.
Seminar ini juga menghadirkan sejumlah narasumber nasional dan internasional, termasuk Tan Sri Dato’ Seri Utama Dr. Rais Yatim, Prof. Dr. dr. Fasli Jalal, Ph.D., serta wartawan senior Khairul Jasmi.
