Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyerukan agar Lebanon segera dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata di Timur Tengah. Starmer menegaskan bahwa serangan Israel terhadap Lebanon adalah tindakan keliru yang memicu krisis kemanusiaan dan harus dihentikan.
Berbicara di hadapan Parlemen Inggris pada Selasa (14/4/2026), Starmer menyatakan, “Kami menyerukan agar Lebanon segera dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata.” Ia melanjutkan, “Hizbullah harus melucuti senjatanya, tetapi saya juga yakin bahwa serangan Israel salah. Serangan tersebut memiliki konsekuensi kemanusiaan yang menghancurkan dan mendorong Lebanon ke dalam krisis. Pengeboman harus dihentikan sekarang.”
Selain itu, Starmer juga mengkritik keras pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan peradaban Iran. “Sehubungan dengan pernyataan tentang menghancurkan peradaban, dapatkah saya benar-benar menjelaskan kepada Dewan ini? Itu salah. Ancaman terhadap warga sipil Iran dengan cara itu salah,” tegas Starmer.
Eskalasi konflik antara Israel dan gerakan Hizbullah di Lebanon telah berlangsung sejak 2 Maret 2026, ketika Hizbullah melanjutkan serangan rudal ke wilayah Israel. Situasi ini memburuk di tengah ketegangan regional yang meningkat. Sebagai respons, Israel melancarkan serangan skala besar ke Lebanon dan pada 16 Maret, mengumumkan dimulainya operasi darat di Lebanon selatan.
Sebelumnya, Hizbullah sempat menangguhkan operasinya terhadap Israel menyusul laporan gencatan senjata dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, kelompok tersebut kembali melancarkan serangan setelah Israel melakukan serangan besar-besaran terhadap Lebanon.
Iran dan Pakistan, yang bertindak sebagai mediator dalam proses perdamaian, menyebut serangan Israel terhadap Lebanon sebagai pelanggaran gencatan senjata. Berbeda dengan pandangan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian gencatan senjata yang dimaksud.
