Kelangkaan gas LPG yang terus-menerus dikeluhkan masyarakat di berbagai daerah mendorong munculnya inovasi alternatif bahan bakar rumah tangga. Di tengah kondisi sulitnya mendapatkan gas LPG, seorang warga Dusun Dawung, Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar bernama Andi, berhasil menciptakan solusi cerdas.
Andi berinovasi dengan merancang kompor yang menggunakan limbah oli dan minyak goreng bekas sebagai bahan bakar utamanya. Penemuan ini tidak hanya menjadi solusi praktis, tetapi juga ekonomis bagi warga yang terdampak kelangkaan gas elpiji.
Meskipun memanfaatkan limbah, performa kompor buatan Andi patut diacungi jempol. Nyala api yang dihasilkan tampak stabil dan berwarna biru, sangat menyerupai api pada kompor gas elpiji konvensional. Desain kompor ini pun sederhana, terdiri dari rangka besi kokoh, tungku pembakaran di bagian tengah, serta wadah khusus untuk menampung limbah oli dan minyak goreng bekas.
Andi menjelaskan, kompor buatannya memiliki efisiensi yang cukup tinggi. “Kalau untuk kebutuhan memasak sekali kita isi bahan bakar nyalanya bisa tahan kurang lebih setengah hari,” ujarnya pada Selasa, 14 April 2026.
Ide pembuatan kompor ini, menurut Andi, bermula dari keresahan pribadinya saat menghadapi kesulitan mendapatkan gas LPG. Ia kemudian mencoba memanfaatkan limbah yang melimpah dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar sebagai alternatif bahan bakar yang terjangkau.
Tak disangka, inovasi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat luas. Banyak warga mulai melirik kompor buatan Andi sebagai solusi di tengah kelangkaan gas. Bahkan, pesanan tidak hanya datang dari wilayah Blitar dan sekitarnya.
“Ada beberapa yang pesan justru dari luar pulau. Dari Kalimantan Timur. Jadi saya kirim ke sana,” imbuh Andi, menunjukkan jangkauan inovasinya yang meluas.
Di pasaran, kompor alternatif ini dibanderol dengan harga sekitar Rp450 ribu per unit. Harga tersebut dianggap sebanding dengan manfaat yang ditawarkan, terutama dalam memenuhi kebutuhan akan bahan bakar yang hemat dan mudah dioperasikan.
Melalui inovasi ini, Andi berharap masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada gas LPG. Selain menjadi jawaban atas kelangkaan, penggunaan limbah sebagai bahan bakar juga dinilai lebih ramah lingkungan dan berpotensi mengurangi pencemaran.
