Presenter kondang Gilang Dirga melayangkan kritik keras terhadap usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi. Kritik ini muncul setelah sang Menteri menyarankan pengaturan gerbong khusus perempuan di rangkaian KRL pasca-tragedi kecelakaan maut di Bekasi Timur.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Rabu (28/4/2026), Gilang secara terang-terangan menyebut bahwa kualitas saran dari Arifah tidak sesuai dengan ekspektasinya. Ia merasa terpanggil untuk memberikan masukan balik kepada pejabat negara yang menangani perlindungan perempuan dan anak tersebut.

“Tanpa mengurangi rasa hormat kepada keluarga korban, ijinkan saya memberikan saran untuk menteri PPPA @arifah.fauzi yang kualitasnya ternyata tidak sesuai ekspektasi saya,” tulis Gilang Dirga.

Gilang juga menyoroti bagaimana pernyataan tersebut seolah-olah merendahkan derajat dan keselamatan kaum laki-laki di transportasi publik. Ia menyindir narasi sang Menteri yang terkesan mengabaikan fakta bahwa pria juga memiliki hak yang sama untuk merasa aman.

“Seolah-olah di mata Anda laki-laki tidak berharga,” tegas Gilang Dirga dalam pernyataannya yang kini viral tersebut. Baginya, keselamatan harus dipandang secara universal tanpa membeda-bedakan jender korban dalam sebuah musibah.

Suami Adiezty Fersa ini menilai ucapan Menteri PPPA seakan memberikan pesan bahwa tidak masalah jika laki-laki yang menjadi korban asalkan perempuan terlindungi. Ia menegaskan bahwa setiap nyawa, terlepas dari jender penumpangnya, memiliki nilai yang sangat berharga bagi keluarga mereka.

Selain itu, Gilang menepis anggapan bahwa perempuan adalah kaum lemah yang selalu harus diposisikan di zona tertentu demi keamanan fisik. Ia mengaku banyak mengenal sosok wanita tangguh yang mampu berjuang keras dan mandiri demi menghidupi keluarganya di luar sana.

Daripada sekadar menggeser posisi gerbong, Gilang berharap pihak PT KAI mampu menghadirkan solusi teknis yang jauh lebih masuk akal dan aman. Perbaikan pada sistem sensor serta kelancaran komunikasi antar-masinis dinilai jauh lebih mendesak untuk mencegah tragedi serupa terulang.

Aktor berusia 36 tahun ini juga mempertanyakan kemampuan berkomunikasi para pejabat publik saat menghadapi situasi krisis yang sensitif. Ia mengkhawatirkan kebijakan yang tidak matang seperti ini justru akan mengecewakan Presiden Prabowo Subianto yang telah memberikan kepercayaan jabatan.

Sebagai informasi, usulan Menteri Arifah Fauzi ini merupakan buntut dari tabrakan maut KA Argo Bromo dengan KRL yang menewaskan sedikitnya 15 orang. Publik kini terus mengawal perdebatan ini sembari menanti kebijakan resmi dari otoritas perkeretaapian nasional terkait standar keselamatan penumpang.