Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) mengingatkan potensi dampak serius dari memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah terhadap stabilitas regional dan global. Organisasi mahasiswa ini mendesak Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam upaya diplomasi guna meredam ketegangan.
Ketua Bidang Politik DPP GMNI, Dhipa Satwika Oey, menyoroti bahwa ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar konflik regional, melainkan bagian dari tarik-menarik kepentingan geopolitik global. Menurutnya, situasi ini memerlukan perhatian serius dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Konflik Timur Tengah dan Perebutan Pengaruh Geopolitik
“Ketegangan yang terjadi menunjukkan bahwa Timur Tengah masih menjadi kawasan yang rentan terhadap perebutan pengaruh geopolitik. Ketika kepentingan negara-negara besar saling berhadapan, potensi eskalasi konflik tentu semakin terbuka,” ujar Dhipa Satwika Oey pada Minggu, 8 Maret 2026.
Dhipa menambahkan, peningkatan ketegangan antara Iran dan Israel, yang turut melibatkan kepentingan Amerika Serikat, berpotensi meluas jika tidak segera diatasi melalui jalur diplomasi. Kondisi ini dapat mengganggu stabilitas kawasan dan keseimbangan politik global.
“Konflik seperti ini tidak berdiri sendiri. Rivalitas geopolitik yang semakin tajam dapat menjalar ke berbagai kawasan dan memperbesar ketegangan hubungan internasional,” tegasnya.
Dampak Kemanusiaan dan Ekonomi Global
Selain aspek politik, GMNI juga menyoroti ancaman krisis kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan. Masyarakat sipil, menurut Dhipa, hampir selalu menjadi pihak yang paling terdampak.
“Pengalaman di banyak konflik menunjukkan bahwa masyarakat sipil sering menjadi korban terbesar. Karena itu, penyelesaian melalui dialog dan diplomasi harus terus didorong agar dampak kemanusiaan yang lebih luas dapat dihindari,” lanjut Dhipa.
DPP GMNI juga menilai bahwa ketegangan di Timur Tengah memiliki implikasi besar terhadap stabilitas energi dunia. Kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi energi global, sehingga setiap gejolak berpotensi memengaruhi harga energi internasional.
“Gejolak geopolitik di kawasan pusat energi dunia tentu akan berdampak pada stabilitas ekonomi global. Indonesia tidak sepenuhnya terlepas dari pengaruh dinamika tersebut,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa fluktuasi harga energi dapat memengaruhi perekonomian Indonesia, dari industri hingga daya beli masyarakat.
Indonesia Harus Ambil Peran Aktif
Dalam konteks ini, GMNI berpandangan bahwa Indonesia tidak seharusnya bersikap pasif. Sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif, Indonesia dinilai perlu mengambil peran lebih besar dalam mendorong penyelesaian konflik melalui diplomasi.
“Indonesia tidak seharusnya hanya menjadi penonton ketika konflik global berpotensi mengganggu stabilitas dunia. Prinsip bebas aktif justru menuntut peran yang lebih aktif dalam mendorong dialog internasional,” tegas Dhipa.
Ia menekankan pentingnya memperkuat langkah diplomasi melalui berbagai forum internasional untuk mendorong de-eskalasi konflik dan menjaga stabilitas global. GMNI juga mengingatkan peran penting gerakan mahasiswa dalam memahami dinamika geopolitik dunia.
“Gerakan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap kritis terhadap ketimpangan dalam tatanan politik global. Dalam semangat nasionalisme, mahasiswa harus terus mendorong terciptanya perdamaian dunia dan hubungan internasional yang adil,” pungkas Dhipa.
