Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI memprioritaskan pendaftaran Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Kintamani Bali di Uni Eropa. Langkah ini merupakan bentuk apresiasi kepada petani Kintamani, sekaligus upaya memperluas pasar komoditas pertanian pertama di Indonesia yang terdaftar sebagai IG ini.

Prioritas ini diungkapkan Ketua Tim Pengawas IG DJKI, Prof. Surip Mawardi, saat melakukan pengawasan IG terdaftar di wilayah Bali, khususnya IG No. 000000001 Kopi Arabika Kintamani Bali, sejak Rabu (20/5/2026).

Latar Belakang dan Tujuan Pengawasan

Prof. Surip Mawardi dikenal sebagai tokoh sentral dalam pengurusan IG Kopi Arabika Kintamani. Ia aktif sebagai peneliti di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember pada masa itu. “Saya meneliti kopi arabika Kintamani antara tahun 1999 – 2007, jadi saya mendampingi petani kopi disini (Kintamani-red) dari tidak paham apa itu IG hingga mendapatkan IG pertama di Indonesia,” tutur pakar kopi tersebut.

Dalam kunjungan pengawasan tersebut, Prof. Surip didampingi Vera dari DJKI dan Abdul Rachman dari Tim Pengawasan Indikasi Geografis Kementerian Kelautan dan Perikanan. Mereka diterima oleh pengurus Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Kintamani, yang diwakili oleh Ketua I Ketut Jati, Wakil Ketua Dr. I Made Sarjana, SP., M.Sc., serta pengusaha kopi I Nyoman Astika dan Komang Eka Wisata. Turut hadir perwakilan dari Tim Brida Kabupaten Bangli, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangli, dan Kantor Wilayah Kemenkumham Bali.

Prof. Surip menjelaskan bahwa pengawasan IG bukan semata-mata untuk mencari kesalahan pengurus MPIG, melainkan untuk melihat seberapa jauh dinamika organisasi mampu menopang keberlanjutan IG itu sendiri. Ia menyatakan kebanggaannya atas keterlibatan akademisi dalam kepengurusan MPIG Kintamani.

“Saya berbangga di kepengurusan MPIG Kintamani ada akademisi yang bersedia terlibat, ini angin segar untuk meningkatkan kinerja organisasi. Kebetulan DJKI Kemenkum sedang dalam proses mendaftarkan IG Kopi Arabika Kintamani di Eropa. Jadi mohon dukungan pengurus MPIG khususnya pak Made Sarjana,” ungkap Prof. Surip Mawardi kepada Dr. I Made Sarjana, dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana yang tercatat sebagai wakil ketua MPIG Kopi Arabika Kintamani.

Prof. Surip juga menekankan pentingnya MPIG Kopi Arabika Kintamani untuk memperbaiki dokumentasi deskripsi IG. Selain itu, ia mendorong pengembangan hilirisasi IG dengan mengembangkan Agrowisata Kopi Arabika Kintamani Berbasis Indikasi Geografis. “Kemenkum sedang menyusun MoU dengan Kemenpar untuk mengembangkan Agrowisata berbasis IG di Indonesia, mudah-mudahan IG Kopi Arabika Kintamani bisa menjadi pelopor,” tegas Prof. Surip Mawardi.

Pernyataan ini didukung oleh Vera dan Abdul Rachman. Abdul Rachman menyoroti pentingnya pengembangan agrowisata berbasis IG untuk mempublikasikan IG secara internasional dan membangun kebanggaan masyarakat lokal. “Harapannya ada pendapatan tambahan dari aktivitas wisata dengan story telling IG sebagai salah satu daya tariknya,” ucap Abdul Rachman.

Sementara itu, Vera meminta kesiapan para pengusaha kopi Kintamani untuk memasarkan produk mereka ke Eropa. “DJKI berupaya membuka pasar kopi arabika Kintamani yang lebih luas ke negara-negara eropa, apakah bapak-bapak siap?” tanya Vera kepada Ketua MPIG Kopi Arabika Kintamani I Ketut Jati, pengusaha kopi asal Desa Dausa Kintamani I Nyoman Astika, serta pengusaha kopi arabika asal Desa Asah Gobleg I Komang Eka Wisata. Ketiga pengusaha kopi itu menyatakan kesanggupan dengan semangat menggebu. “Siap” ujar ketiga pengusaha itu bersamaan.

Tantangan dan Komitmen MPIG

Dr. I Made Sarjana memaparkan berbagai persoalan terkait pengelolaan MPIG Kopi Arabika Kintamani, terutama keterbatasan dana operasional. “Misalnya kami tidak bisa melaksanakan pertemuan rutin bulanan atau triwulan, atau menerbitkan kartu anggota MPIG karena butuh dana besar sementara kami tidak punya dana operasional,” tutur dosen Pengembangan Masyarakat tersebut.

Meskipun demikian, akademisi lulusan master pariwisata dan lingkungan Wageningen University Belanda ini menegaskan bahwa pertemuan pengurus dilaksanakan secara insidental ketika ada kegiatan pengabdian masyarakat perguruan tinggi dan pihak swasta ataupun menerima tamu dari instansi.

Dr. Made Sarjana, yang dikenal sebagai peneliti Agrowisata, menekankan pihaknya siap menyusun kembali buku deskripsi IG. Penyesuaian akan dilakukan dengan kondisi terkini, meliputi perubahan varietas, teknik budidaya, maupun penanganan pasca panen. “Termasuk deskripsi terkait potensi pengembangan agrowisata, saya akan susun draftnya bersama pengurus lainnya sesegera mungkin,” pungkas peneliti Pusat Unggulan Pariwisata Unud itu.