Perjalanan menuju Kabupaten Aceh Tengah, yang dijuluki “Negeri Antara” atau negeri di atas awan, kini tak lagi semudah dulu. Hujan deras dan kondisi jalan yang sebagian masih longsor serta jembatan terputus, memaksa tim ANTARA menempuh rute memutar. Jika biasanya hanya butuh sekitar 2,5 jam dari Biereuen, kini waktu tempuh bertambah 3,5 jam, melintasi 104 kilometer jalan yang masih dipenuhi endapan lumpur dan sisa longsoran.
Setibanya di Aceh Tengah pada Rabu, 18 Februari 2026, kabut pekat menyambut di siang bolong. Suhu 19 derajat Celcius dengan kelembapan 95 persen di aplikasi Google Weather menegaskan julukan daerah ini sebagai negeri di atas awan, bagian dari Dataran Tinggi Gayo yang meliputi Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Kawasan seluas 4.454,04 km persegi ini, dengan ketinggian 200-2600 meter di atas permukaan laut, dipisahkan oleh Danau Lut Tawar yang eksotis. Mayoritas penduduknya adalah suku Gayo, meskipun kini beragam suku lain juga menetap berkat program transmigrasi.
Takengon, ibu kota Aceh Tengah, dikenal dengan kopi Gayo-nya yang mendunia. Kopi Arabika Gayo menjadi produk ekspor andalan, menjangkau pasar Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Belanda, Italia, Denmark, serta Asia Tengah dan Timur. Selain kopi, pacuan kuda juga menjadi olahraga paling populer di Takengon, mengalahkan sepak bola. Namun, saat tim ANTARA berkunjung, tidak ada acara pacuan kuda yang berlangsung.
Trauma Banjir dan Perjuangan Bangkit
Kini, kota di atas awan ini masih dalam proses revitalisasi pasca-bencana banjir Sumatera yang melanda pada 25-30 November lalu. Data Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh mencatat, 11.657 jiwa di Aceh Tengah terdampak, tersebar di satu kecamatan dan 26 kampung. Sebanyak 4.426 rumah dilaporkan rusak akibat bencana ini.
Tim ANTARA bergegas menuju Kampung Toweren Uken di Kecamatan Lut Tawar, salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Berjarak sekitar 30 menit dari Takengon, akses jalan menuju kampung ini berkelok-kelok dan sebagian masih tertimbun endapan lumpur. Kampung Toweren Uken, yang terletak di selatan Danau Lut Tawar, luluh lantak diterjang banjir bandang yang membawa gelondongan kayu dan endapan lumpur setinggi 1 hingga 1,5 meter. Empat kampung di sekitarnya—Toweren, Toweren Antara, dan Toweren Toa—juga mengalami kerusakan parah, memaksa warganya mengungsi.
Meski sebagian rumah hancur lebur dan tak bisa dihuni, semangat masyarakat untuk bangkit tak padam. Perlahan, mereka kembali membersihkan endapan lumpur dan menyingkirkan sisa kayu gelondongan. Martinansyah, salah seorang penyintas, mengenang kengerian saat bencana terjadi. “Sebagian orang panik karena terkejut dengan datangnya gelondongan kayu dari gunung sampai kampung ini. Sekarang adalah trauma-trauma sedikit orang masyarakat kampung ini,” ungkapnya.
Khadijah, penyintas berusia 60 tahun, baru kembali ke rumahnya tiga hari terakhir untuk menyambut bulan suci Ramadan. Ia hanya bisa mengelus dada melihat perkebunan, satu-satunya mata pencahariannya, hancur tertimpa longsor. “Tinggal diamlah mau gimana lagi kondisinya (begini),” ujarnya pasrah, menganggap musibah ini sebagai ujian dari Allah.
Total 12.638 hektare lahan kopi, 4.100 hektare lahan cabai, 2.787 hektare sawah, serta 38 hektare area perikanan di Aceh Tengah terdampak banjir. Baik Khadijah maupun Martinansyah kini harus memutar otak mencari pekerjaan alternatif, namun belum berhasil.
Tradisi Meugang dan Bantuan Presiden
Di tengah keterpurukan, tradisi Meugang, perayaan turun temurun masyarakat Aceh untuk menyambut hari-hari besar Islam, tetap akan dijalankan menjelang Ramadan. Kepala Kampung Toweren Uken, Sirwan, mengonfirmasi adanya bantuan daging dari Presiden untuk masyarakat terdampak. “Rabu besok, masyarakat meugang di rumah sendiri. Ini alhamdulillah mungkin ada dari presiden mengasih daging ke desa-desa, alhamdulillah. Mungkin ini minimalnya mungkin ada yang dapat setengah kilo, mungkin alhamdulillah ini pun bantuan dari kabupaten, provinsi,” jelas Sirwan.
Presiden Prabowo Subianto sendiri telah mentransfer bantuan senilai lebih dari Rp72,7 miliar untuk pembelian sapi tradisi Meugang. Bantuan ini disalurkan melalui Sekretariat Presiden ke 19 pemerintah kabupaten/kota pada Selasa, 10 Februari 2026.
Suasana pasca-bencana memang masih terasa pilu di pinggiran Danau Lut Tawar. Namun, sukacita menyambut Ramadan dan semangat kebersamaan untuk menjaga tradisi tetap tumbuh di “Negeri Antara” ini, menunjukkan ketabahan masyarakatnya.
