Dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak, dr. R R Amanda Soebadi, Sp.A(K), M.Med (ClinNeurophysiol), membagikan panduan penting bagi orang tua mengenai bentuk pendampingan yang efektif saat anak berinteraksi dengan layar atau screen time. Pendampingan ini krusial untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dan mencegah potensi adiksi gawai.
Dalam wawancara eksklusif dengan ANTARA di Jakarta pada Rabu (29/4/2026), dr. Amanda menjelaskan bahwa screen time tidak hanya terbatas pada penggunaan telepon genggam. “Screen time itu tidak harus HP ya, sama saja dengan tablet, televisi itu juga screen time,” tegasnya.
Ia menyarankan agar aktivitas menonton televisi baru diberikan kepada anak yang berusia di atas dua tahun, dengan total durasi maksimal satu jam per hari. Apabila screen time diberikan lebih dini, pendampingan langsung dari orang tua atau pengasuh terdekat seperti saudara kandung orang tua, kakek, atau nenek, menjadi sangat penting.
Selama anak menonton, orang tua atau pengasuh dianjurkan untuk aktif berinteraksi. Caranya adalah dengan membahas tayangan yang sedang dilihat, sehingga anak tidak hanya menjadi pendengar pasif. Sebelum memulai screen time, penting juga untuk menentukan maksud dan tujuan anak diperbolehkan melihat tayangan tersebut, serta memperhatikan durasi tayangan.
“Misal satu episode kartun itu 30 menit, setelah selesai, matikan televisinya. Bukannya sudah selesai, ditanya mau nonton apa sekarang di Youtube,” ujar dr. Amanda, menekankan pentingnya konsistensi dalam membatasi durasi.
Orang tua juga disarankan untuk tidak terlalu lama menggulir layar yang menampilkan tontonan secara cepat, mengingat otak anak masih dalam tahap perkembangan. Dr. Amanda menyoroti bahwa setelah menghentikan tontonan, pengasuh harus menyiapkan kegiatan pengganti yang berkualitas. Contohnya adalah mengajak anak berbicara saat makan, bermain puzzle, atau menyusun balok. Seluruh kegiatan ini dapat membantu mengembangkan otak anak secara lebih maksimal.
“Jadi tidak bisa, pokoknya gadget-nya diambil saja, habis itu terserah anak mau ngapain. Kegiatan pengganti yang ideal itu memang kalau anak bisa bermain interaktif dengan pengasuhnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Amanda turut menyoroti kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar menyalakan televisi sepanjang hari. Kebiasaan ini sangat disayangkan karena dapat membuat anak terbiasa untuk tidak merespons orang lain saat diajak berinteraksi. “Karena anak terbiasa mendengar orang berbicara, jadi aku tidak perlu merespons karena tidak ada orang yang kecewa jika aku tidak merespons televisi,” pungkasnya, mengingatkan akan dampak negatif dari paparan layar yang tidak terkontrol.
