Di tengah dominasi platform audio digital yang serba otomatis, sebuah fenomena menarik terungkap di Kota Pahlawan. Generasi Z (Gen Z) Surabaya, yang dikenal akrab dengan teknologi, ternyata belum sepenuhnya berpaling dari frekuensi radio tradisional. Sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa meskipun mendamba kontrol penuh atas konten yang mereka dengar, ada satu elemen krusial yang tidak dapat diberikan oleh kecerdasan buatan (AI): ruh manusia dan kedekatan budaya lokal.

Paradoks Pilihan Audio Gen Z Surabaya

Fenomena ini terungkap dalam penelitian bertajuk “Transisi dari Radio Terestrial ke Audio-On-Demand” yang digarap oleh Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, Harliantara, bersama Bahar Ozturk dari Universitas İnönü, Turki. Studi ini memotret bagaimana mahasiswa di Surabaya menavigasi preferensi audio mereka di antara efisiensi digital dan kebutuhan emosional.

Bagi Gen Z yang terbiasa dengan kecepatan dan personalisasi, radio terestrial seringkali dianggap kurang menarik karena rentetan iklan yang repetitif. Para mahasiswa responden dalam penelitian ini sepakat bahwa platform Audio-on-Demand (AoD) seperti Spotify dan YouTube Music menawarkan otonomi mutlak atas pengalaman mendengarkan mereka.

“Pendengar sekarang bukan lagi penerima pasif, melainkan kurator aktif. Mereka ingin menjadi bos atas telinga mereka sendiri, menentukan playlist tanpa interupsi,” tulis Harliantara dalam laporannya yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Communication.

Peralihan dari model push (disodori konten) ke model pull (memilih konten) ini telah mengubah ponsel pintar menjadi pusat kendali suasana hati mereka.

Saat Macet, Radio Kembali Jadi Pilihan

Namun, penelitian ini menemukan sebuah “paradoks perjalanan” yang unik. Saat terjebak kemacetan Surabaya yang menjemukan, kebebasan memilih di platform digital justru dapat menjadi beban kognitif. Di sinilah radio terestrial kembali menemukan relevansinya.

Ketika mobilitas tinggi, anak muda cenderung malas memilah lagu satu per satu. Mereka memilih untuk menyerahkan kendali kepada penyiar radio. Radio dianggap lebih praktis, tinggal putar tanpa perlu berpikir, sekaligus menjadi teman setia di kabin kendaraan.

Riset ini menggarisbawahi kegagalan AI dalam menangkap nuansa emosional dan konteks lokal. Algoritma mungkin tahu lagu apa yang disukai pendengar, tetapi ia tidak memahami bagaimana rasanya terjebak macet di jalanan Ahmad Yani saat hujan deras. Di sinilah peran “jangkar manusia” menjadi krusial. Penggunaan dialek Suroboyoan yang khas, celetukan spontan penyiar, hingga bahasan isu lokal menjadi perekat sosial yang tidak dimiliki oleh kurasi lagu global.

“Audiens muda tetap mencari interaksi langsung dan kedekatan budaya. Dialek lokal dan spontanitas manusia adalah sesuatu yang belum mampu dihadirkan oleh kurasi berbasis AI,” ungkap tim peneliti dalam kesimpulannya.

Strategi “Mutasi Digital” untuk Industri Radio

Agar tidak gulung tikar di era digital, riset ini menawarkan kerangka kerja bernama “mutasi digital”. Industri radio tidak boleh lagi sekadar siaran cuap-cuap di udara, tetapi harus menempuh dua jalur sekaligus:

  • Adaptasi Teknis: Menyediakan konten yang dapat diakses kapan saja (on-demand) dan meminimalisir gangguan audio yang mengganggu pengalaman mendengarkan.
  • Penguatan Emosional: Mempertajam kehadiran manusia, empati, dan konteks lokal yang sangat spesifik.

Masa depan industri audio di kota-kota besar seperti Surabaya rupanya tidak terletak pada kemenangan mutlak teknologi, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut dipadukan dengan sentuhan personal yang manusiawi.