Cuaca buruk berupa hujan dengan intensitas tinggi dan angin kencang kembali melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memicu peringatan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat agar masyarakat mewaspadai ancaman bencana banjir susulan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Kalsel, Bambang Dedi Mulyadi, pada Senin (2/2), menegaskan pentingnya kewaspadaan. “Kita meminta masyarakat terutama yang bermukim di daerah aliran sungai dan wilayah rawan bencana untuk mewaspadai ancaman banjir susulan. Kita tahu sejumlah daerah di Kalsel baru surut setelah dilanda banjir besar beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa kondisi cuaca buruk berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang diperkirakan akan terus melanda sejumlah wilayah Kalsel. Sementara itu, Balai Wilayah Sungai (BWS) III Kalimantan juga mencatat bahwa kondisi Sungai Martapura saat ini berada dalam status siaga.

Menyikapi ancaman bencana ini, Bambang menambahkan bahwa pihaknya terus memperkuat upaya sosialisasi dan mitigasi. Salah satu langkah yang diambil adalah pemanfaatan baliho dan videotron milik pemerintah serta swasta sebagai sarana untuk menyebarkan informasi mengenai ancaman bencana kepada masyarakat luas.

Dampak Banjir Besar Akhir 2025

Sebagai informasi, pada akhir Desember 2025, Kalimantan Selatan dilanda banjir besar yang berdampak pada delapan kabupaten. Banjir tersebut diawali dengan terjadinya banjir bandang di wilayah hulu Kabupaten Balangan, yang kemudian meluas dan berdampak signifikan ke daerah hilir.

Delapan kabupaten yang wilayahnya terdampak banjir besar tersebut meliputi Kabupaten Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, dan Tanah Laut.

Kecelakaan Perairan Meningkat

Selain ancaman banjir, cuaca buruk juga turut berdampak pada peningkatan risiko kecelakaan di perairan Kalimantan Selatan. Sepanjang Januari 2026, tercatat setidaknya enam kasus kecelakaan perairan, baik di sungai maupun di laut.

Kasus terbaru yang dicatat oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) Banjarmasin adalah hilangnya dua nelayan saat mencari ikan pada Minggu (1/2).

  • Seorang nelayan bernama Ardiansyah (61) dilaporkan hilang saat mencari ikan di Sungai Desa Simpang Warga, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar.
  • Nelayan lainnya, Bahran (50), dilaporkan hilang setelah diduga terjatuh dari perahunya di Perairan Takisung, Kabupaten Tanah Laut.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banjarmasin, I Putu Sudayana, menyatakan bahwa tim SAR telah diterjunkan untuk melakukan upaya pencarian terhadap kedua nelayan yang hilang tersebut. “Pencarian dilakukan secara terpadu bersama masyarakat dan unsur SAR instansi lain seperti BPBD, Polair dan TNI AL,” jelasnya.