Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, mengungkapkan kondisi psikis penjual es gabus, Suderajat, dan istrinya yang terindikasi mengalami disabilitas gangguan mental pascatrauma. Pernyataan ini disampaikan menyusul polemik mengenai keterangan Suderajat yang kerap berubah-ubah saat diwawancarai.

Menurut Tenny, hasil asesmen menunjukkan bahwa Suderajat dan istrinya menderita disabilitas gangguan mental pascatrauma. Kondisi ini menyebabkan keterbatasan verbal yang membuat keterangan mereka sering berubah saat diwawancarai, sehingga menimbulkan kesan tidak jujur.

Trauma Akibat Insiden di Kemayoran

Gangguan mental yang dialami Suderajat berawal dari insiden pada 24 Januari lalu di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Saat itu, Suderajat dituduh menjual es gabus berbahan spons oleh sejumlah aparat.

Akibat tuduhan tersebut, dagangan Suderajat dirusak. Ia juga mengalami luka ringan di bagian wajah dan pundak. Kejadian traumatis ini memicu dampak psikologis berat pada Suderajat, yang kemudian memengaruhi kemampuan komunikasinya secara signifikan.

Keterangan dari Ketua RT dan RW setempat turut menguatkan adanya gangguan mental yang diderita Suderajat. Bahkan, kondisi mental istrinya disebut lebih parah, hingga komunikasinya sulit dipahami. Pasangan suami istri ini dilaporkan hampir tidak pernah bersosialisasi dan menjadi tidak terbiasa dengan keramaian sejak insiden tersebut.

Klarifikasi Camat Bojonggede Atas Polemik

Sebelumnya, polemik mencuat ketika Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), dalam wawancara di kanal YouTube-nya, menyebut Suderajat tidak jujur. Menanggapi hal ini, Camat Bojonggede menjelaskan bahwa kondisi Suderajat adalah akibat sakit mental, dan tidak ada maksud untuk menipu.

Tenny Ramdhani menegaskan bahwa Suderajat dan istrinya membutuhkan perhatian khusus serta pendampingan untuk memulihkan kondisi psikis mereka. Pemerintah kecamatan berjanji akan menyiapkan program pendampingan psikososial untuk membantu pasangan tersebut.