Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya peningkatan aktivitas seismik signifikan di wilayah Nabire dan sekitarnya, Provinsi Papua Tengah. Tercatat sebanyak 37 kejadian gempa bumi mengguncang area tersebut dalam kurun waktu sepekan terakhir, terhitung sejak Jumat, 13 Februari 2026, hingga Jumat, 20 Februari 2026.
Peningkatan frekuensi gempa ini menjadi perhatian serius bagi otoritas dan masyarakat setempat. Meskipun sebagian besar gempa memiliki magnitudo kecil hingga sedang, beberapa di antaranya dilaporkan dirasakan oleh warga.
Aktivitas Seismik dan Kondisi Geologis Nabire
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, menjelaskan bahwa wilayah Nabire secara geologis memang merupakan zona rawan gempa. “Nabire terletak di pertemuan lempeng tektonik dan dilalui oleh beberapa sesar aktif, sehingga aktivitas gempa bumi di daerah ini adalah hal yang wajar dan perlu diwaspadai,” ujar Dr. Daryono dalam keterangan persnya pada Jumat (20/2/2026).
Menurut data BMKG, gempa-gempa yang terjadi bervariasi dalam magnitudo, dengan yang terbesar tercatat mencapai M 4.8. Sebagian besar gempa merupakan gempa dangkal, yang berpotensi lebih terasa di permukaan. Intensitas guncangan yang dirasakan oleh masyarakat Nabire dan sekitarnya berkisar antara Skala II hingga III Modified Mercalli Intensity (MMI), yang berarti getaran dirasakan oleh beberapa orang hingga terasa seperti truk lewat.
Imbauan dan Langkah Mitigasi BMKG
Meskipun belum ada laporan mengenai kerusakan signifikan atau korban jiwa akibat rentetan gempa ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. “Kami meminta masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami. Selalu ikuti informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG,” tegas Dr. Daryono.
Selain itu, BMKG juga menyarankan agar masyarakat di Nabire dan sekitarnya meningkatkan kewaspadaan. Warga diimbau untuk memeriksa kembali kondisi bangunan tempat tinggal mereka. Apabila ditemukan retakan atau kerusakan, disarankan untuk segera melakukan perbaikan guna mengantisipasi potensi bahaya jika terjadi gempa susulan yang lebih kuat. Kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman bencana alam di wilayah rawan gempa seperti Nabire.
