Badan Standardisasi Nasional (BSN) bergerak cepat mendukung program “gentingisasi” yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Sebagai langkah konkret, BSN telah menetapkan 15 Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai acuan kualitas penutup atap rumah. Kebijakan ini bertujuan untuk menjamin keamanan, kenyamanan, dan kualitas hunian masyarakat.

Inisiatif ini merupakan respons terhadap visi Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang berupaya menciptakan lingkungan pemukiman yang lebih sejuk dan tertata. Dengan adanya standar baku ini, pemerintah daerah dan produsen kini memiliki rujukan yang jelas dalam menyediakan material bangunan yang berkualitas tinggi.

SNI Genting Jamin Mutu dan Keamanan

Deputi Bidang Pengembangan Standar BSN, Hendro Kusumo, menjelaskan bahwa meskipun penerapan SNI genting saat ini masih bersifat sukarela, keberadaannya sangat penting sebagai filter kualitas di pasar. “SNI genting hadir untuk memastikan produk yang sampai ke tangan masyarakat memiliki jaminan mutu, keamanan, dan keselamatan,” ujar Hendro di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Salah satu terobosan terbaru BSN adalah penetapan SNI 9360:2025 tentang Genting Keramik. Standar baru ini memperbarui aturan lama dengan parameter pengujian yang lebih ketat. Pengujian mencakup daya serap air, kekuatan patah, hingga ketepatan ukuran genting.

Hendro memerinci lebih lanjut mengenai salah satu poin utama dalam pengujian, yakni simulasi hujan selama dua jam. “Genting dinyatakan memenuhi syarat jika tidak ada tetesan air di bagian bawah dan tingkat kelembapan permukaan bawahnya tidak lebih dari 25%,” tambahnya.

Hingga saat ini, data dari Sistem Barang Ber-SNI (Bangbeni) menunjukkan bahwa baru enam pelaku usaha yang secara resmi menerapkan standar tersebut. BSN terus mendorong lebih banyak produsen untuk melakukan sertifikasi melalui enam Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK) yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Langkah standarisasi ini diharapkan tidak hanya mempercantik estetika bangunan secara nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing industri genting lokal. Hal ini krusial di tengah masifnya program pembangunan hunian layak bagi rakyat di seluruh Indonesia.