Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Botani Terapan tengah serius meneliti potensi kayu raru (Vatica perakensis) sebagai obat herbal antidiabetes berbasis kearifan lokal. Kayu ini telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Batak sebagai campuran minuman tradisional (tuak) dan dipercaya memiliki khasiat menurunkan kadar gula darah.

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Gunawan Trisandi Pasaribu, menjelaskan bahwa ekstrak kayu raru memiliki sifat antioksidan yang kuat dan berpotensi menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase. Enzim ini diketahui berperan penting dalam proses pemecahan karbohidrat menjadi glukosa di dalam tubuh.

“Untuk meningkatkan efektivitasnya, ekstrak kulit kayu raru kami kombinasikan dengan karbon aktif berbahan dasar mocaf (tepung singkong termodifikasi) yang berfungsi sebagai pembawa (carrier) zat aktif,” kata Gunawan melalui keterangan di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Ia menambahkan, karbon aktif tersebut diproduksi melalui proses pemanasan khusus hingga membentuk struktur berpori sangat halus. Struktur ini dirancang agar mampu membawa dan melepaskan senyawa aktif dari ekstrak raru secara lebih efektif di dalam tubuh, sehingga penyerapan dan khasiatnya bisa optimal.

Penelitian ini dilakukan menggunakan tikus jantan yang diinduksi menjadi diabetes. Hewan uji dibagi ke dalam beberapa kelompok, termasuk kelompok kontrol, kelompok yang diberi ekstrak raru tunggal, serta kelompok kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif dengan rasio berbeda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak raru tunggal mampu menurunkan kadar gula darah secara signifikan, mencapai 21,94 persen. Sementara itu, kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif mocaf juga menunjukkan penurunan yang menjanjikan, yakni sebesar 18,85 persen pada rasio 75:25 dan 14,97 persen pada rasio 50:50.

Penelitian sebelumnya juga telah membuktikan bahwa ekstrak raru mampu menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase secara in-vitro hingga lebih dari 90 persen. Aktivitas ini diduga kuat berkaitan dengan kandungan senyawa fenolik yang melimpah di dalamnya.

Meski demikian, Gunawan menegaskan bahwa masih ada tahapan riset lanjutan yang perlu dilakukan. “Analisis farmakokinetik, mekanisme kerja secara rinci, serta aspek keamanan penggunaan masih perlu dikaji lebih lanjut sebelum memasuki tahap uji klinis pada manusia,” ujarnya.

Riset ini menjadi langkah awal penting dalam mengangkat kearifan lokal sebagai sumber inovasi obat herbal berbasis sains. “Ke depan, tim peneliti akan melakukan analisis fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif, mengoptimalkan sistem penghantaran zat aktif, serta memperdalam kajian mekanisme kerja dan aspek keamanan,” demikian Gunawan Trisandi Pasaribu.

sumber gambar: gesit.id