Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi yang diperkirakan melanda 17 provinsi di Indonesia. Fenomena ini diprediksi berlangsung hingga akhir Februari 2026, dengan ancaman disertai petir dan angin kencang yang dapat memicu .

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, pada Rabu (18/2/2026) di Jakarta, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer saat ini menunjukkan adanya dinamika yang signifikan. “Kami memantau adanya peningkatan aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) yang bergerak melintasi wilayah Indonesia, diperkuat oleh gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial. Ini semua berkontribusi pada peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di banyak wilayah,” ujarnya.

Provinsi-provinsi yang masuk dalam daftar siaga meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua. Masyarakat di daerah-daerah ini diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang mungkin timbul.

Dampak cuaca ekstrem yang diwaspadai antara lain banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, serta gelombang tinggi di perairan. BMKG secara khusus menyoroti wilayah pegunungan dan lereng yang rawan longsor, serta daerah dataran rendah yang berpotensi tergenang air akibat intensitas hujan yang tinggi.

BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca terbaru melalui kanal-kanal resmi BMKG. “Kami sarankan agar masyarakat menyiapkan diri, seperti membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang rapuh, dan menghindari berteduh di bawah pohon saat hujan lebat disertai petir. Bagi pengendara, pastikan kendaraan dalam kondisi prima dan siapkan jas hujan,” tambah Guswanto.

Selain itu, nelayan dan operator transportasi laut juga diminta untuk memperhatikan tinggi gelombang. Beberapa perairan diprediksi mengalami gelombang tinggi hingga 2,5 meter, yang berisiko bagi pelayaran kecil.