Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami curah hujan tertinggi pada Dasarian I Februari 2026. Volume hujan yang sangat lebat ini mencapai 318 milimeter per dasarian, jauh melampaui wilayah lain di NTB.

Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Cakra Mahasurya, di Mataram pada Rabu (11/2/2026) menjelaskan, “Kecamatan Empang diguyur hujan kategori sangat lebat dengan volume sebanyak 318 milimeter per dasarian. Curah hujan di sana lebih tinggi daripada wilayah lain di NTB.”

Secara umum, BMKG melaporkan bahwa curah hujan di seluruh NTB selama periode 1-10 Februari 2026 bervariasi, mulai dari kategori rendah (21-50 milimeter per dasarian) hingga sangat tinggi (lebih dari 300 milimeter per dasarian). Sifat hujan juga tidak merata, dengan variasi dari bawah normal hingga atas normal, mengindikasikan distribusi hujan yang tidak seimbang di beberapa wilayah.

Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH) di NTB masih tergolong sangat pendek, yakni antara 1 hingga 5 hari, serta kategori pendek dalam rentang 6-10 hari. Menanggapi kondisi ini, Cakra mengimbau masyarakat untuk waspada. “Kami imbau masyarakat agar memperhatikan kebersihan dan debit di wilayah aliran air,” tegasnya.

Banjir Bandang Rendam Ribuan Rumah

Hujan intensitas tinggi yang terjadi pada 7 Februari 2026 menyebabkan banjir bandang di Kecamatan Empang. Bencana ini merendam ribuan rumah dan berdampak pada 10 desa. Total 1.125 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 3.620 jiwa terdampak akibat banjir tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa, Nurhidayat, melaporkan bahwa kerusakan terparah terjadi di Desa Jotang. Di desa tersebut, jembatan dan badan jalan mengalami kerusakan signifikan, serta satu sekolah dasar terendam air.

Nurhidayat juga mengungkapkan bahwa pendangkalan sungai akibat sedimentasi menjadi faktor yang memperparah kondisi banjir di Kecamatan Empang, membuat dampak bencana semakin meluas.