Bhayangkari Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan komitmen serius terhadap kelestarian ekosistem bawah laut Gili Trawangan. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Yayasan Kemala Bhayangkari (YKB) ke-46 pada tahun 2026, organisasi istri polisi ini menggelar aksi nyata dengan menebar 50 liter cairan Eco-Enzyme di perairan ikonik Lombok Utara tersebut.

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 25 April 2026, ini dipimpin langsung oleh Ketua Bhayangkari Daerah NTB, Ny. Uty Edy Murbowo. Ia didampingi oleh Pengurus Daerah Bhayangkari dan Pengurus Daerah YKB NTB, serta Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, yang dikenal aktif mengawal program lingkungan di wilayah tersebut.

Aksi penebaran Eco-Enzyme ini bukan sekadar seremoni peringatan hari jadi organisasi, melainkan menjadi simbol komitmen kuat untuk mengembalikan keseimbangan alam, khususnya di kawasan wisata bahari yang menjadi daya tarik utama Lombok Utara.

Ny. Heny Agus Purwanta menjelaskan, cairan Eco-Enzyme yang ditebar merupakan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga. Bahan-bahan seperti kulit buah melon, semangka, jeruk, serta air kelapa diproses selama 90 hari untuk menghasilkan cairan multifungsi ini.

Menurut Ny. Heny, Eco-Enzyme memiliki fungsi vital dalam menjaga kualitas perairan. Cairan ini mampu menjernihkan air laut yang tercemar, mengurangi polutan secara alami, hingga membantu mengubah karbon dioksida (CO2) menjadi karbonat (CO3). “Perubahan menjadi karbonat ini sangat mendukung keberlangsungan biota laut dan kesehatan terumbu karang,” jelasnya.

Selain itu, cairan tersebut juga dinilai efektif menetralkan amonia, mengurai bahan organik berlebih, serta menekan pertumbuhan bakteri patogen yang berpotensi merusak ekosistem laut.

Dalam proses pembuatannya, Bhayangkari menerapkan standar fermentasi dengan komposisi 10:3:1, yakni 10 bagian air, 3 bagian sampah organik, dan 1 bagian gula atau molase. “Pada bulan pertama fermentasi, gas harus rutin dibuang setiap minggu agar proses berjalan sempurna,” kata Ny. Heny.

Tidak hanya fokus pada aksi konservasi, Bhayangkari juga aktif mendorong edukasi kepada masyarakat, pelajar, hingga pelaku wisata di Gili Trawangan. Tujuannya agar mereka mampu memproduksi Eco-Enzyme secara mandiri, termasuk di lingkungan hotel dan restoran, sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Melalui gerakan ini, Bhayangkari ingin menanamkan filosofi bahwa menjaga laut berarti menjaga sumber kehidupan. “Ekosistem laut terjaga, biota laut sehat, ikan melimpah, dan pada akhirnya rakyat pun sejahtera,” tutupnya.