Sebanyak 22 Rukun Tetangga (RT) di Jakarta Timur terendam banjir hingga Selasa (5/5/2026) pagi. Ketinggian air dilaporkan mencapai 195 sentimeter (cm) di titik tertinggi, khususnya di wilayah Bidara Cina. Data ini dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta.
Kepala Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Kota Administrasi Jakarta Timur, Rangga Bima Setiawan, menjelaskan bahwa banjir berdampak pada dua kecamatan dan lima kelurahan. “Data genangan dan banjir di Kota Jakarta Timur hari ini kondisi sampai dengan pukul 06.00 WIB jumlah kecamatan terdampak ada dua, dengan kelurahan terdampak lima, sebanyak 11 RW, 22 RT,” kata Rangga saat dihubungi di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Rangga menambahkan, banjir mulai terjadi sejak Senin (4/5/2026) malam sekitar pukul 20.00 WIB dengan ketinggian awal sekitar 30 cm. Namun, air terus mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa jam. “Banjir mulai terjadi sejak Senin (4/5) sekitar pukul 20.00 WIB dengan ketinggian awal berkisar 30 cm. Namun, air terus meningkat hingga pagi hari di sejumlah titik,” ujarnya.
Penyebab utama banjir ini adalah curah hujan yang tinggi serta luapan air dari Kali Ciliwung. “Penyebab banjir karena curah hujan tinggi dan luapan Kali Ciliwung,” tegas Rangga.
Wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Jatinegara dan Kramat Jati. Lima kelurahan utama yang mengalami genangan adalah Bidara Cina, Kampung Melayu, Cawang, Balekambang, dan Cililitan. Di Kelurahan Bidara Cina, tepatnya di RW 003, RW 004, dan RW 011, ketinggian air meningkat drastis dari 30 cm pada Senin malam menjadi 175-195 cm lebih pada pukul 06.00 WIB.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah titik lain. Di Kampung Melayu, khususnya di Jalan Kebon Pala II RW 04, RW 05, dan RW 08, ketinggian air naik dari 30 cm menjadi 100-120 cm. Sementara itu, di Cawang, banjir yang semula 30 cm kini mencapai 40-80 cm. Di Kelurahan Cililitan, air naik dari 30 cm menjadi 40-90 cm. Berbeda dengan kelurahan lain, genangan di Kelurahan Balekambang yang semula 30 cm kini telah surut.
Meskipun demikian, Rangga memastikan bahwa belum ada warga yang mengungsi. “Untuk sementara belum ada warga yang mengungsi. Warga masih bertahan di rumah masing-masing sambil memantau kondisi air,” jelasnya.
Pihak berwenang terus melakukan pemantauan intensif di lokasi terdampak dan menyiagakan personel untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan air lebih lanjut. “Sedang ditangani oleh pihak kelurahan setempat bersama PPSU, tim TRC BPBD, Dinas Sumber Daya Air, Satpol PP setempat, Tagana, dan Gulkarmat,” kata Rangga.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. 
