Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran, menyatakan akan melancarkan serangan baru yang lebih brutal jika Teheran menolak untuk segera menandatangani kesepakatan damai. Ancaman ini disampaikan di tengah kebuntuan perundingan antara kedua negara.
“Kita akan menjatuhkan mereka dengan cara yang jauh lebih keras dan lebih brutal di masa depan, jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan itu!” tegas Trump melalui platform media sosial Truth Social pada Jumat, 08 Mei 2026.
Latar Belakang Ketegangan AS-Iran
Ancaman terbaru ini muncul setelah serangkaian insiden dan upaya diplomatik yang belum membuahkan hasil. Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, yang mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Insiden tersebut memperparah ketegangan yang sudah ada.
Menyusul serangan itu, pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan sebagai upaya meredakan situasi dan membuka ruang dialog. Namun, perundingan yang diadakan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan yang berarti.
Trump kemudian memperpanjang masa penghentian permusuhan, memberikan waktu tambahan bagi Iran untuk mengajukan “proposal terpadu” yang diharapkan dapat menjadi dasar kesepakatan damai. Selain itu, pada Minggu malam, Trump juga mengumumkan “Proyek Freedom” yang bertujuan membantu kapal-kapal yang terblokir di Selat Hormuz agar dapat melanjutkan perjalanan.
Pada Selasa, Trump menyatakan keputusannya untuk menghentikan sementara operasi Proyek Freedom. Langkah ini diambil untuk melihat apakah kesepakatan damai dengan Iran dapat tercapai, menunjukkan adanya upaya untuk mencari solusi diplomatik meskipun diiringi dengan retorika keras.
