Kementerian Pertanian (Kementan) meresmikan proyek hilirisasi ayam terintegrasi di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Inisiatif ini bertujuan memenuhi kebutuhan tambahan daging dan telur untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Penguatan Produksi untuk MBG

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan RI, Agung Suganda, menjelaskan bahwa meskipun Indonesia telah swasembada dan surplus daging ayam serta telur, program MBG membutuhkan pasokan tambahan signifikan. “Saat ini Indonesia sudah swasembada daging ayam dan telur. Kita bahkan juga sudah surplus dan ekspor. Namun dengan adanya program Makan Bergizi Gratis terdapat penambahan kebutuhan untuk daging ayam sekitar 1,1 juta ton per tahun dan telur ayam sekitar 774 ribu ton,” kata Agung saat peresmian di Kabupaten Malang pada Minggu, 8 Februari 2026.

Data Kementan menunjukkan, kebutuhan nasional untuk mendukung MBG mencapai sekitar 1,1 juta ton daging ayam dan 774 ribu ton telur per tahun. Angka ini dinilai belum tercukupi, sehingga penguatan produksi melalui konsep hilirisasi terintegrasi menjadi krusial.

Malang sebagai Pusat Pembibitan Grand Parent Stock

Agung menambahkan, Kabupaten Malang dipilih sebagai salah satu lokasi proyek hilirisasi ayam terintegrasi yang diinisiasi Danantara Indonesia di bawah perusahaan BUMN, mengingat potensi peternakan ayam yang tinggi di wilayah tersebut. “Kita memang sudah swasembada, tapi 63 persen produksi ayam dan telur kita dihasilkan di Pulau Jawa. Untuk mengurangi disparitas, termasuk penyebaran dan pemerataan produksi daging ayam dan telur di luar Pulau Jawa, maka dibangun proyek hilirisasi ayam terintegrasi,” jelasnya.

Untuk fase pertama, proyek ini diresmikan di enam titik, dengan Malang fokus pada pembangunan pembibitan Grand Parent Stock (GPS) di kawasan lereng Gunung Kawi, Kecamatan Ngajum. Program ini ditargetkan mampu menghasilkan Parent Stock (PS) dan hingga 130 juta Final Stock (FS). Selain Malang, proyek serupa juga dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Kalimantan Timur. “Khusus untuk Malang ini bukan membangun ekosistem utuh seperti lima titik lainnya, tetapi fokus pada pembangunan pemibitan Grand Parent Stock-nya,” tegas Agung.

Dukungan Ketahanan Pangan Nasional

Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, pada Jumat (6/2/2026) menyatakan, pembangunan kandang dan hatchery GPS oleh anak perusahaan ID FOOD, PT Berdikari, merupakan bagian dari proyek strategis nasional untuk menjaga ketahanan pangan. “Fasilitas ini dibangun di atas lahan seluas 5,6 hektare dengan kapasitas 18.000 ekor GPS, yang secara proyeksi mampu menghasilkan sekitar 900 ribu ekor DOC Parent Stock broiler dan 130 juta DOC Final Stock,” kata Ghimoyo.

Ia menyebut, program hilirisasi ini merupakan bagian dari enam proyek fase pertama yang tersebar di 13 lokasi pada sembilan provinsi, dengan total investasi mencapai sekitar US$ 7 miliar. Proyek ini diharapkan mampu menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja, memperkuat sektor riil, meningkatkan daya saing industri dalam negeri, serta mengurangi ketergantungan impor.

Senada, Direktur Utama PT Berdikari, Maryadi, menegaskan bahwa fasilitas GPS ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat hulu industri perunggasan nasional. “Dengan kapasitas yang dibangun, fasilitas ini diproyeksikan mampu menghasilkan daging ayam karkas hingga sekitar 169 juta kilogram. Ini akan berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan protein nasional, termasuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis,” pungkas Maryadi.