Di tengah hiruk pikuk persiapan Natal, seorang mahasiswa Teknik Informatika Universitas Surabaya (Ubaya), Cedric Gratia Tjia, berhasil menciptakan sebuah ilustrasi Natal yang tak hanya memukau secara visual, tetapi juga sarat makna emosional. Karya unik ini bukan sekadar goresan digital biasa, melainkan hasil perpaduan lebih dari 870 persamaan matematika yang rumit, didedikasikan khusus untuk mendiang ayahnya.

Cedric memamerkan hasil ketelitiannya tersebut di Perpustakaan Kampus Ubaya Tenggilis pada Senin, 22 Desember 2025. Ilustrasi ini menjadi “surat cinta” yang mengharukan bagi sang ayah yang baru saja berpulang pada November lalu, sebuah pengingat akan kebersamaan keluarga yang tak lekang oleh waktu.

Proses Kreatif Penuh Dedikasi

Untuk merangkai kurva demi kurva menjadi sebuah gambar utuh, Cedric menghabiskan waktu hingga 84 jam. Ia menggunakan platform Desmos, sebuah alat grafik matematika, untuk memasukkan variabel persamaan linear, kuadrat, hingga trigonometri satu per satu. Proses ini jauh dari kata instan, menuntut kesabaran dan ketelitian tinggi.

Ilustrasi yang dibuat Cedric bukanlah gambar abstrak, melainkan potret keluarganya yang diambil pada momen Natal 2021. “Foto ini diambil pada momen Natal 2021. Ini sangat bermakna, pengingat kebersamaan dengan Papa yang baru berpulang bulan November lalu,” tutur Cedric, menjelaskan latar belakang emosional di balik karyanya.

Di era digital yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan kemudahan instan, Cedric justru memilih jalur manual yang menguras otak. Ia memulai dengan menentukan titik patokan, lalu memilih rumus yang tepat agar lengkungan garis terlihat luwes dan natural, seolah digambar tangan.

Tantangan terbesar adalah melukis enam karakter manusia dalam ilustrasi tersebut. Setiap karakter membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam pengerjaan. Cedric harus memastikan detail wajah dan proporsi tubuh tidak terlihat ganjil, mencampurkan berbagai rumus kompleks seperti persamaan lingkaran, elips, hingga parabola.

Lulusan SMA Kristen Petra 2 Surabaya ini menjelaskan bahwa ia menggunakan warna-warna kontras seperti merah dan ungu hanya sebagai alat bantu agar garis tidak saling tumpang tindih dalam koordinat kartesius, bukan untuk pewarnaan akhir. “Sistem copy-paste tidak berlaku di sini. Semua garis harus diformulasikan terpisah dan butuh ketelitian tinggi. Kalau sembarangan, hasilnya bisa terlihat aneh,” tegasnya.

Matematika Sebagai Bahasa Seni dan Peluang Masa Depan

Meski pengerjaannya rumit, Cedric mengaku sangat menikmati setiap detik proses kreatif ini. Baginya, matematika adalah bahasa seni yang belum banyak dieksplorasi oleh publik secara luas. Ia melihat potensi besar dalam kemampuannya ini, bukan sekadar tugas kuliah.

Ke depan, Cedric berencana mempertajam tekniknya agar bisa menghasilkan gambar yang lebih realistis dan berwarna. Ia optimistis bahwa keahlian uniknya ini memiliki peluang cerah di industri kreatif. “Saya berharap kemampuan ini bisa menjadi alternatif pekerjaan, seperti konten edukasi atau komisi karya seni matematika yang unik,” pungkas Cedric.

Karya Cedric Gratia Tjia menjadi bukti nyata bahwa teknologi dan logika matematika dapat beriringan dengan rasa kemanusiaan, menciptakan kehangatan dan refleksi mendalam, terutama di momen Natal yang penuh makna.