Samantha Elsen, adik kandung aktor Darius Sinathrya, membagikan kisah personal yang menyentuh hati mengenai perjalanan spiritualnya. Keputusan Samantha untuk memeluk agama Islam memicu konflik mendalam dengan sang ayah, bahkan sempat berujung pada penolakan keras yang mengguncang hubungan keluarga.

Perjalanan Spiritual dan Penolakan Sang Ayah

Momen krusial terjadi ketika Samantha memberanikan diri mengungkapkan niatnya untuk menjadi seorang mualaf kepada ayahnya. Proses pencarian keyakinan ini telah ia jalani sejak masa remaja hingga bangku kuliah pada tahun 2009 silam.

“Pah maaf ya, mungkin papa enggak akan bangga sama apa yang aku sampein, tapi aku udah memilih nih aku udah mantapin diri aku mau pindah,” tutur Samantha, mengutip dari unggahannya di TikTok.

Pengakuan tersebut disambut dengan reaksi penolakan yang sangat keras dari sang ayah. Samantha menuturkan, ayahnya sangat terkejut dan marah besar, hingga melontarkan kalimat bahwa ia tidak sudi lagi menganggap Samantha sebagai anaknya.

Menghadapi amarah yang meluap, Samantha memilih untuk merespons dengan tenang. “Ya enggak apa-apa tapi kan aku tetap anaknya Papa. Kalau Papa ngerasa kayak gitu hari ini enggak apa-apa aku terima,” ungkapnya, menjelaskan ketenangannya saat itu.

Ketenangan Samantha dalam menghadapi situasi sulit ini disebutnya dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya sebagai mahasiswi psikologi. Ia mengaku lebih mampu memahami dinamika emosi dan rasa kecewa mendalam yang dirasakan orang tuanya.

Kekecewaan sang ayah juga memiliki latar belakang sejarah yang kompleks. Ayah Samantha dulunya adalah seorang penganut Islam yang kemudian berpindah keyakinan menjadi Katolik. Keputusan Samantha untuk kembali memeluk Islam seolah memutar kembali siklus masa lalu dalam keluarga mereka.

Hubungan Merenggang dan Asumsi Orang Terdekat

Pasca perdebatan sengit mengenai perbedaan keyakinan, hubungan antara ayah dan anak ini sempat membeku. Samantha mengungkapkan bahwa mereka berada dalam fase putus komunikasi yang intens, dengan obrolan yang hanya terjadi setiap enam bulan sekali dan selalu diwarnai ketegangan.

Keteguhan Samantha pada pendiriannya sempat dipertanyakan oleh orang-orang terdekat, termasuk atasannya di tempat kerja. Sang atasan bahkan berasumsi bahwa keputusannya memeluk Islam hanyalah bentuk pemberontakan untuk membebaskan diri dari kontrol ketat keluarga.

Menanggapi asumsi tersebut, Samantha tidak menampik sepenuhnya, namun menegaskan bahwa ini adalah murni keputusannya. Ia menyatakan, dengan membebaskan diri, ia bisa menjadi perempuan independen yang menjalani kehidupan sesuai keinginannya sendiri, dengan segala risiko yang menyertainya.

Kakak kandungnya, Darius Sinathrya, juga sempat berusaha merangkul dan mengajak diskusi. Darius menanyakan alasan adiknya yang dirasa bisa membuat ayah mereka tidak nyaman. Namun, Samantha tetap memberikan argumen kuat mengenai kebebasan memilih jalan spiritualnya sendiri.

Titik Balik Rekonsiliasi Setelah Pengalaman Mati Suri

Setelah bertahun-tahun hubungan merenggang, titik terang rekonsiliasi akhirnya muncul saat kesehatan sang ayah menurun. Ayahnya dikabarkan jatuh sakit dan mengalami serangan stroke.

Pada momen kritis inilah, sebuah peristiwa spiritual mengubah pandangan keras sang ayah. Ia menceritakan sempat mengalami fase mati suri saat berjuang melawan penyakitnya. Dalam pengalaman spiritual tersebut, ia merasa bertemu dengan sosok malaikat yang memberikannya peringatan keras.

Malaikat tersebut secara spesifik meminta sang ayah untuk segera menyelesaikan urusan yang belum tuntas di dunia, khususnya dengan anaknya. Apabila ingin meninggal dunia dengan tenang, hubungan ayah dan anak yang sempat hancur karena perbedaan keyakinan itu harus segera diperbaiki dan dikembalikan seperti sedia kala tanpa rasa dendam.

Berbekal pengalaman spiritual yang menegangkan itu, sang ayah akhirnya berinisiatif menghubungi Samantha. Ia menyampaikan permintaan maaf secara tulus. Sejak saat itu, hubungan mereka kembali mencair, dipenuhi canda tawa, dan berangsur pulih seiring berjalannya waktu.