Sebuah video yang menampilkan konflik antara ibu tiri dan anak tiri kembali menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Namun, di balik narasi dramatis yang disajikan, muncul dugaan kuat bahwa konten tersebut sengaja direkayasa. Lebih jauh, pakar keamanan siber memperingatkan adanya ancaman serius berupa tautan berbahaya yang disisipkan, berpotensi mengancam data pribadi pengguna yang penasaran.
Fenomena video viral yang diduga rekayasa ini bukanlah hal baru. Pengamat media sosial menyoroti bagaimana konten semacam ini kerap dirancang untuk memancing emosi dan rasa ingin tahu publik, dengan tujuan akhir mengarahkan pengguna ke situs atau aplikasi tertentu yang tidak aman. “Modus operandi ini memanfaatkan psikologi massa. Ketika sebuah konten memicu kontroversi atau simpati, orang cenderung ingin tahu lebih banyak dan tidak ragu mengklik tautan yang menyertainya,” ujar seorang pakar keamanan siber, Dr. Budi Santoso, pada Selasa (14/4/2026).
Ancaman Tautan Berbahaya Mengintai
Peringatan keras dikeluarkan terkait tautan yang disebarkan bersamaan dengan video tersebut. Tautan-tautan ini, yang seringkali dikemas seolah-olah sebagai ‘bukti lengkap’ atau ‘video tanpa sensor’, sebenarnya adalah pintu gerbang bagi berbagai jenis kejahatan siber. Ketika diklik, pengguna berisiko terpapar phishing, instalasi malware, atau bahkan pencurian data pribadi dan kredensial akun.
Modus phishing, misalnya, dapat mengarahkan pengguna ke halaman palsu yang menyerupai situs media sosial atau perbankan, kemudian meminta mereka memasukkan username dan password. Data yang dimasukkan akan langsung dicuri oleh pelaku. Sementara itu, malware yang terinstal tanpa disadari dapat memata-matai aktivitas pengguna, mencuri informasi sensitif, atau bahkan mengendalikan perangkat dari jarak jauh.
Pentingnya Literasi Digital dan Verifikasi Sumber
Melihat maraknya kasus serupa, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan literasi digital. Sebelum mengklik tautan apa pun, terutama yang berasal dari sumber tidak jelas atau dibagikan secara masif di grup pesan, sangat penting untuk melakukan verifikasi. Periksa keaslian sumber berita, cari informasi dari media massa terkemuka, dan jangan mudah terprovokasi oleh judul atau narasi yang sensasional.
Pihak berwenang juga terus mengimbau agar masyarakat tidak menyebarkan konten yang belum terverifikasi kebenarannya, apalagi jika disertai tautan mencurigakan. Penggunaan perangkat lunak keamanan (antivirus) yang mutakhir dan rutin memperbarui sistem operasi pada perangkat juga menjadi langkah preventif yang krusial untuk melindungi diri dari ancaman siber.
